Category:Other


Oleh: Agusti Anwar

Ada dua film bergenre komedi yang ingin saya singgung. Karena penasaran, akhirnya saya tonton juga filmnya Meryl Streep itu, maklum penggemar artis hebat ini: The Devil Wears Prada (2006). Dengan genre komedi, film yang dibintangi Anne Hathaway mengisahkan suka duka sebagai sekretaris baru Miranda Priestley (Streep) yang memimpin majalah mode, Runaway berbasis New York yang dianggap sebagai penentu gelagat dan gemerlap dunia pakaian sentuhan para desainer tenar. Priestley adalah bos yang berkarakter sangat menuntut, tipe ‘difficult people’ yang seluruh orang lain di sekitarnya dianggap tidak kompeten.

Anne Hathaway sebagai Andy Sach, yang semula senang mempercandakan dunia glamor yang bertuhankan pakaian itu, tertantang untuk mempertahankan pekerjaannya dan memenangkan hati Miranda. Ada usaha keras di situ, bahkan di luar konteks pekerjaan yang wajar; ada bantuan editor senior lain yang diperankan Stanley Tucci, sehingga akhirnya Andy berhasil. Ia yang di awal dianggap tidak penting, seorang ‘emily’, berubah menjadi sekretaris unggulan; ia yang semula tak kenal mode, menjadi penggemar produk bermerek. Ini soal prada.

Sebetulnya tidak ada yang istimewa dalam film ini, kecuali karena Meryl Streep bermain dengan sangat meyakinkan. Kisah kerja keras, bos yang sinis, dunia mode, hubungan dan persahabatan yang dikorbankan demi karier, selingkuh ringan---tak banyak yang istimewa. Plot yang manis, memang, tetapi biasa saja, tanpa kejutan-kejutan berarti.

Agak berbeda dengan Thank Your for Smoking (bukan 'for not smoking') yang diperankan Aaron Eckhart sebagai Nick Naylor. Film bergenre komedi produksi tahun 2005 ini cukup menantang karena ia membentangkan dengan cukup jelimat pertarungan keras antara lobi pro- dan anti-rokok. Berbeda dengan arus masyarakat yang lagi mengemuka, film ini justru mengangkat sudut pandang lobi rokok, yang semakin hari mengalami tekanan yang semakin kuat. Bersama-sama dengan rokok, lobi pro-senjata dan –alkohol juga berada pada posisi yang terpojok dan berjuang keras: lobi produk-produk yang ditinggalkan konsumennya.

Banyak hal yang menarik dalam film ini, bukan saja karena Eckhart bermain manis sebagai pelobi yang lihai, walaupun mudah terperosok rayuan reporter cantik (Kate Holmes) sehingga menjadi bumerang. Sebagai pelobi tokoh Nick sangat andal menggunakan argumen: you are never wrong if you argue it correctly. Pada dasarnya semua hal memiliki titik lemah, apa pun itu, termasuk argumen lobi anti-rokok yang ditokohi Senator Ortolan Finnistirre asal Vermont, yang diperankan William H. Macy. Atas tudingan yang gencar tentang bahaya rokok sebagai ‘pembunuh massal’, Nick Naylor justru mengargumenkan bahaya pesawat terbang dan kendaraan bermotor, bahkan sedar asal Vermont yang mengandung kolestrol, yang justru telah membunuh lebih banyak orang.

Berbeda dengan The Devil yang hanya bertumpu pada Streep, mungkin juga Tucci, film Thank You for Smoking dijejali banyak nama tenar, mulai dari Robert Duvall, Macy, Rob Lowe, Holmes, J.K. Simmons, Sam Elliot dan lainnya. Dari segi isi pun, film lobi rokok ini penuh substansi yang tajam, intrik dan politik, anak dan pernikahan yang pecah, contoh-contoh kasus negosiasi, plot comeback, dan sebagainya. Jika anda seorang negotiator, pelobi atau diplomat, film ini bernilai terutama dari sudut pandang bahwa everything is an argument, yang penting selihai apa anda memainkannya. The Devil mungkin menghibur dan membuat anda mengangguk-angguk karena seakan pernah mengalami atau menghadapi bos yang sulit, namun semua itu akan cepat berlalu. Film lobi rokok garapan sutradara Jason Reitman ini mungkin akan lebih diingat, bukan karena sekedar mengingatkan pengalaman pribadi, tetapi justru karena kita benar-benar belajar sesuatu.

Kendati demikian, yang sama dari kedua film komedi ini saya kira adalah hipokrisi Hollywood itu; sikap paradoksal yang pada akhirnya tunduk pada perhitungan bisnis dan pasar terbesarnya. The Devil, meskipun memamerkan segala keglamoran industri mode, tetap ditutup dengan kembalinya kesadaran Andy bahwa semua itu palsu. Ia kembali ke kekasihnya yang lama, meskipun sempat sekali berselingkuh. Pesan moral yang superfisial memang, namun pesan komersilnya kuat karena bagaimanapun penonton terbesar tetap saja masyarakat kebanyakan yang tidak kuat membiayai gaya hidup penuh mode secara terus-menerus. Mereka yang perlu dimenangkan, meskipun orang-orang kaya yang keranjingan mode tetap saja unggul karena kisahnya telah dipaparkan. Tentu di mata mereka yang kaya, penolakan terhadap mode tidak lain hanya karena yang menolak tidak punya uang.

Paradoks Hollywood dalam Thank You for Smoking ditonjolkan pada akhir cerita dengan membelotnya Nick sebagai pelobi rokok. Agar lebih dramatis, disebutkan pula bahwa kebetulan selanjutnya penolakan terhadap rokok semakin kuat dan industri rokok melemah. Di sini Hollywood kembali memenangkan pasar mayoritas penontonnya yang sekarang trendnya menolak rokok. Padahal, seperti disinggung dalam dialognya, film-film yang diproduksi di masa lalu justeru selalu menonjolkan para jagoan yang merokok, kisah asmara romantis yang dihiasi rokok, pokoknya format ala Malboro Man. Bahkan disebutkan bahwa sebagian besar aktor Hollywood sebetulnya perokok, meskipun di depan layar semua itu tidak ditampilkan. Julia Robert, pemeran Pretty Woman, misalnya, disebut sebagai penggemar rokok Virgina Slim, meskipun itu tentu di saat sedang off-screen. Bayangkan kalau program para lobi anti-rokok di bawah Senator Finistirre, seperti dalam film itu, berhasil menggenjot kampanyenya lebih jauh dengan melakukan penyuntingan digital semua film-film terdahulu yang pernah menampilkan rokok, katanya bukan sebagai upaya menipu sejarah, tetapi justeru ‘improving history’.

Jadi, bagi saya, The Devil Wears Prada hanya film 2 bintang, sedangkan Thank Your for Smoking dapat 4. Tidak ada yang lima.

Jakarta, September 2006



16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sepasangmatabola wrote on Sep 30, '06
sekali pun aku juga fan Meryll Streep mas Anwar, aku sengaja nggak nonton "The Devils Wear Prada". kenapa? soale, gampang banget buatku berlagak jadi bos yang galak... hahaha... apa susyahnya syeh, apa lagi buat Streep? udah pengalaman punya bos galak, jadi kagak kaget liat preview tuh filem. itu mah hal biasaaah... kalo "Thank You for Smoking" waaa... ini perlu aku liat nih... makasih ya resensinya mas Anwar! :)
gitasinta wrote on Sep 30, '06
Kakyaknya yang "Thank You for Smoking" wajib ditonton deh...thanks Bang.
deshinta wrote on Oct 1, '06
aku mau nonton dua-duanyaaaaaaaaaaaaaa
decy wrote on Oct 1, '06
wah..tinggal nonton Thank You for Smoking...thankyou
agustianwar wrote on Oct 2, '06
pengalaman punya bos galak, jadi kagak kaget liat preview tuh filem
Sepertinya hampir semua kita punya pengalaman mengahadapi bos sulit, termasuk yang tipe kebun binatang.... Miranda Priestly di film itu justru hanya bicara dengan gaya muka tinggi, tidak harus kasar...di Indonesia yang kasar habis saja banyak...ya kan...?
agustianwar wrote on Oct 2, '06
Kakyaknya yang "Thank You for Smoking" wajib ditonton deh...thanks Bang.
Sebuah review bisa sangat subjektif lho, bisa jadi juga tidak enjoy. Cuma, namanya komedi, Thank You for Smoking justru komedi satir jadi kadang terasa pahit...
agustianwar wrote on Oct 2, '06
aku mau nonton dua-duanyaaaaaaaaaaaaaa
Cuma yang Thank Your for Smoking mungkin lebih susah dicari di Malaysia...
agustianwar wrote on Oct 2, '06
decy said
tinggal nonton Thank You for Smoking...thankyou
My pleasure---moga-moga juga enjoy...salam...
neofoundyou wrote on Oct 12, '06
bagus reviewnya mas :D
agustianwar wrote on Oct 13, '06
Makasih...moga-moga ada manfaatnya...
kangbayu wrote on Feb 27, '07
Bagus analisa dan narik benang merah nya mas, perlu dicontoh

Buat saya sih dua2nya dapet nilai bagus, tapi yang satu dalam kategori hiburan (Devil), satunya lagi dalam kategori 'smart' comedy (Smoking). Btw kalau cocok dengan gaya humornya Smoking, keliatannya bakalan suka juga serial The West Wing (tapi yang season2 awal ya).

Salam,
agustianwar wrote on Feb 28, '07
Btw kalau cocok dengan gaya humornya Smoking, keliatannya bakalan suka juga serial The West Wing (tapi yang season2 awal ya).
Saya penggemar (berat) film dan tentu saja suka West Wing. Kebetulan sampai season 5 terakhir sudah lihat (dan koleksi). Excellent series, karena memungkinkan kita melihat wajah Gedung Putih dalam nuansa keseharian paling tidak dari segi konteks. Saya biasanya suka koleksi semua seri televisi yang ada di pasar dari yang komedi sampai yang model X Files, kecuali yang sejenis Sex n the City atau Desprate Housewives. Sejak di LA malah jadi mundur he he he....karena semua harganya mahal (original). Mmm.....? Thx..
movieguide wrote on Mar 2, '07
Sayang sekali memang cuma The Devil Wears Prada aja yang masuk Indo. Thank You For Smoking malah gak. Padahal bagusan yang terakhir sih. Dan Eckhart main paling bagus disini. Sebagai perbandingan, bisa nyoba liat The Insider (Russell Crowe) yang sama - sama mengulas industri rokok. Gw sempat nulis ketiganya di www.movieguide.multiply.com
agustianwar wrote on Mar 4, '07
Sebagai perbandingan, bisa nyoba liat The Insider (Russell Crowe) yang sama - sama mengulas industri rokok. Gw sempat nulis ketiganya di www.movieguide.multiply.com
Ya, saya juga sudah lihat film Insider ini....thx
(Ulasannya cukup banyak ya.....menarik dan bagus......)
movieguide wrote on Mar 5, '07
Thanks, Mas. kayaknya tulisan saya biasa - biasa aja. Gak istimewa. Sebenarnya lebih tepat dibilang sebagai sharing sih, bukan review ......
ardhana wrote on Mar 24, '07
Thank U bagus. dia membuka patgulipat antara industri, politik dan hiburan. cuman, akting pemainnya standar2 aja..
salam kenal
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help