What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Tanggal 4 Nopember, ketika Barack Obama dinyatakan menang dalam pemilu AS 2008, buku sejarah membuka entri baru yang luar biasa. Selamat bagi AS, tentu saja; bahkan bagi dunia.
Tidak perlu berlebih-lebihan menyambut kemenangan Obama. Namun, tanpa berniat begitu pun, dipilihnya Obama sebagai presiden ke-44 oleh rakyat Amerika, merupakan hal yang istimewa.
Menyaksikan pemilihan itu langsung dari Amerika, suasana kemenangan itu memang lebih termaknai. Sejak masa-masa awal pun, ketika Partai Demokrat perlu memilih kandidatnya, persaingan antara Obama dan Hillary Clinton, telah berlangsung demikian unik. Kemudian ketika Obama menang dalam Democratic Convention pada akhir Agustus di Denver, Colorado, harapan yang muncul semakin meningkat.
Obama membawa janji perubahan. Yes, we can!---ia membawakan harapan yang tinggi. Kampanye-kampanye politiknya dihadiri sangat banyak massa. Pendukungnya demikian antusias.
Sebagai pengamat, siapa pun yang dipilih rakyat AS menjadi presidennya merupakan prerogatif rakyatnya. Tetapi Pemilu 2008 di negeri Paman Sam kali ini memang menyedot perhatian dunia; lebih dari biasanya.
Ketika seorang kandidat dari kulit hitam yang tampil, perasaan rakyat AS seperti berkecamuk, tidak begitu pasti. Di antara harapan yang tinggi; juga yang khawatir sekali. Lebih-lebih dari masyarakat kulit hitam sendiri.
Sangat banyak drama. Jelas, ia adalah presiden berkulit hitam pertama sejak AS merdeka di tahun 1776. Ia adalah sejarah baru Amerika. Ketika Ann Nixon Cooper, seorang nenek berusia 106 tahun disebut dalam pidato kemenangannya, Obama memang menggarisbawahi sebuah perubahan zaman. Kemenangan Obama adalah kemenangan ibu tua kulit hitam yang menunggu lebih satu abad lamanya untuk menjadi kenyataan. "I got not time to die", kata Ann.
Dengan usia 47 tahun, Obama adalah presiden muda yang punya karakter global yang tidak biasa. Tidak heran kalau denyut-denyut kemenangannya dalam Pemilu AS ini dirasakan di banyak kota di dunia. Bahkan, ia adalah presiden AS pertama yang punya kaitan langsung dengan dua negara berkembang---Kenya dan Indonesia. Di negeri kita, kemenangan Obama bahkan terasa seperti kemenangan Indonesia juga.
Pada 30 Oktober lalu, dalam sebuah acara peluncuran program Indonesia di UCLA, seorang filantropis yang menyandang dana pertama program itu dengan gamblang menyatakan harapannya untuk kemenangan Obama. Menurutnya, terujinya daya tahan Obama dalam ombak badai proses pemilu selama ini, tentu sangat terkait dengan masa pembentukan dirii Obama di waktu muda di Indonesia, yang menjadikannya tahan uji.
Banyak sekali, memang, yang menempatkan Obama dengan penuh janji. Ia adalah wajah Amerika yang tampak disambut di mana-mana. Ketika puteri-puteri kecil saya yang pulang dari sekolah bercerita, semua teman-teman katanya pun memilih Obama. "Rack Obama rocks!"* kata Alya yang anak Pre-K, walau pun ia pasti belum begitu mengerti.
Amerika telah menentukan pemimpin barunya. Harapan semua rakyat dunia bagi hubungan global yang lebih baik jelas sangat tinggi kepadanya.
LA, 5 November 2008
*) Alya melafalkan nama Barack Obama sebagai "Rack Obama"---tanpa Ba.
Ada tengkorak tergantung di tengah rak barang di super market---dan topeng zombi plastik, nisan buatan, jaring laba-laba? Betul, masih jauh memang ke akhir Oktober, tetapi berbagai super market sudah sama-sama curi start dengan memajang deretan benda-benda untuk perayaan Halloween. Hantu-hantu itu telah siap dipasarkan.
Bagi saya, Halloween barangkali adalah salah satu perayaan (festival) yang sulit dimaknai. Ketika tanggal 31 Oktober orang-orang berpakaian aneh dan menyeramkan, dan tentu bepesta; anak-anak membawa lentera dan mengetuk pintu-pintu rumah meminta suguhan permen (trick or treat); ada kontradiksi kultural masyarakat modern yang mencolok. Jawaban saya, terutama karena konteks lingkungan yang merayakannya adalah masyarakat Barat.
Sedikit sejarah: Halloween yang sekarang menular bahkan ke negara-negara non-Barat seperti Indonesia, adalah tradisi pasca panen yang berawal dari Irlandia. Tentu masih pada zaman pagan; perayaan budaya Celtic kuno yang semula bernamakan "samhain". Perayaan ini menandai akhir musim panen yang juga lazim dirayakan dalam berbagai budaya bangsa lain.
Asal muasal Halloween atau samhain diperingati dengan menyembelih ternak untuk disimpan dalam menghadapi musim dingin, berikut penyimpanan hasil panen lainnya. Titik batas masuknya musim dingin dianggap sebagai perbatasan antara dunia yang hidup dan yang mati. Mereka yang telah mati disebut dapat membahayakan masyarakat melalui bermacam penyakit, bahkan, gagal panen. Sebagai bentuk sesajiannya adalah melemparkan tulang-tulang hewan yang disembelih. Untuk memperdaya para hantu dan setan yang bergentayangan, orang-orang pun mengenakan berbagai topeng dan kostum/pakaian menyeramkan.
Artinya, perayaan pasca panen bangsa Irlandia ini mirip dengan upacara yang dilakukan berbagai kelompok bangsa lainnya, termasuk di tanah air. Seperti biasa, selalu ada unsur tidak tampak, dunia lain, atau yang besifat supernatural dan dewa-dewa, yang terlibat---ketika perlindungan dimintakan. Yang membedakan halloween hanyalah bahwa orang-orang juga melakukan peniruan fisik terhadap makhluk-makhluk dunia lain itu. Manusia ikut menjadi hantu.
Tentang lentera dari labu (jack-o-lantern), juga punya kisah tersendiri. Singkatnya, bahwa labu yang dibentuk seperti kepala dan diberi lentera itu dianggap sebagai ajimat unggul untuk mengusir para hantu. Sedangkan tradisi trick or treat menjadi bentuk sosial yang lazim dilakukan anak-anak, dengan meminta suguhan dari rumah ke rumah. Secara literal, trick or treat tidak lain bentuk ancaman "mau dikerjain atau beri hadiah", walaupun tentu pelaksanaannya lebih bersifat hiburan.
Benar bahwa Halloween juga telah mengalami berbagai perayaan asosiatif dengan tradisi Kristiani tertentu. Namun, setahu saya, tidak ada keterpautan langsung antara keduanya, dalam hal mana Halloween tetap menjadi perayaan tersendiri. All Saints Days yang ditetapkan jatuh pada tanggal 1 November sejak abad ke-9, justru tidak ada pautannya dengan dunia para hantu dari tradisi pagan itu.
Sekarang, khususnya dalam tradisi AS dan Barat, perayaan Halloween menjadi bentuk pesta ganjil yang meriah. Para orang tua memang mengarahkan anak-anak untuk mengambil porsi meriahnya saja, melatih hubungan sosial. Para petani modern sekalipun sudah lagi tidak takut kepada para hantu. Sesembahan yang diberikan sekarang lebih pada pupuk dan pakan; sedangkan perhatian yang mengkhawatirkan lebih kepada pada pemanasan global. Namun herannya tradisi perayaannya tetap terpelihara; tentu juga berkat dedikasi chained superstore yang memasarkan serba-serbi Halloween secara lebih kreatif.
Di tahun 2007, Joel Stein dari Los Angeles Times mengkritik tradisi Halloween yang dipakai orang-orang dewasa penggila pesta sebagai alasan untuk berpesta-pora. Faktanya, ketika dunia Barat cenderung sangat skeptis [kalau tidak mentah-mentah menolak] terhadap dunia gaib dan supernatural, perayaan menghalau hantu dengan sendirinya dikonversi menjadi sekedar pesta-pesta---kali ini dengan dress code kostum apa pun yang menyeramkan. Ia pun menjadi industri besar yang menjadi sasaran party stores, bar, taman-taman hiburan sampai produser film besar Hollywood. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan latar belakang orisinal dari tradisi perayaan tutup panen bangsa Celtic itu.
Di LA, masyarakat Indonesia dan KJR Los Angeles menggelar perayaan HUT RI ke-63 dengan berbagai rangkaian kegiatan. Tentu dimulai dengan pertandingan olah raga. Mulai dari bowling, pimpong, volley, basket, badminton, golf dan juga permainan seperti bilyar, gaple dan tarik suara karaoke.
Yang lebih meriah tentunya nanti kegiatan Celebrating Indonesia, pada Sabtu, 30 Agustus 2008. Acara ini menampilkan bazar, ekspo produk dan informasi; peragaan busana, tari-tarian dari berbagai daerah, permainan gamelan (live) Jawa dan Bali, reog, peragaan membatik, peragaan keris nusantara, pencak silat; dan juga penampilan band lokal yang oke punya. Reza Saleh dan kawan-kawan yang sudah pernah menang di festival jazz Long Beach juga akan muncul, bahkan ia ikut jadi panitia. Dari artis nasional rencananya akan tampil juga Ariyo Wahab serta dari penyanyi dangdut.
Di hari Sabtu, 30 Agustus ini, juga akan dicanangkan sebagai hari batik demi untuk lebih memperkenalkan batik sebagai khasanah kekayaan Indonesia kepada masyarakat AS. JAdi, apabila anda hadir bersama-sama warga California lainnya, sangat dianjurkan mengenakan batik. Atau pakaian daerah lainnya. Acara ini juga akan dihadiri pejabat AS setempat dan kalangan consular corps.
Ayo, spread the words! Undang teman-teman anda, semua, datang beramai-ramai. Periksa info lebih lanjut di website di atas.
Dalam sebuah iklan bank, pewawancara bertanya tentang fantasi nasabah dalam hal online banking. Seorang yang menjawab mengatakan khayalannya berada di puncak gunung Alpen, tetapi tidak jauh dari titik hotspot.
Zaman kita memang zaman teknologi tinggi. Sekarang sudah menjadi kebutuhan untuk bisa berada dekat dengan sumber WiFi, agar dapat online. Di AS, khususnya, kebutuhan itu terlihat mencolok, apalagi ketika berada di bandara. Atau di kafe. Hotel. Apalagi di kampus-kampus.
Dengan teknologi informasi yang revolusioner sekarang ini, ternyata kita semakin tidak bisa berdiam diri; sendiri. Sudah tidak lazim lagi untuk menjadi tidak produktif, sekedar duduk melamun saja. Jarak fisik sudah tidak lagi menjadi hambatan yang mutlak. Apalagi kalau itu karena harus menunggu.
Ketika Brett Stewart dalam sebuah konferensi di San Franscisco di tahun 1993 mengetengahkan ide tentang perlunya layanan LAN yang dapat diakses publik, penyebutan yang digunakannya belum lagi 'hotspot'. Menurut Wiki, adalah Nokia yang menggunakan istilah ini di akhir 1990an dan kemudian menjadi istilah yang baku.
Sekarang hotspot itulah yang segera di cari-cari, apakah itu untuk menggunakan piranti wireless seperti laptop, PDA, IPod atau apa pun lainnya. Artinya, lokasi yang menyediakan titik WiFi atau akses internet nirkabel menjadi tumpuan. Akan lebih ideal lagi kalau dekat dengan colokan (plug) listrik. Lalu laptop pun dikembangkan, sekejap kemudian sudah berselancar di dunia maya.
Tampaknya zaman akan semakin sangat diwarnai dunia virtual, khususnya di negara-negara maju yang layanan broadband tersedia di mana-mana. Apa pun sekarang, semakin diarahkan kepada pelayanan berbasis maya. Anda ada masalah dengan bank, layanan telepon, pemesanan barang, apa pun itu, termasuk sekedar memesan tiket bioskop atau lainnya. Online lah dulu, periksa FAQ, kirim email dan sebagainya.
Reservasi secara online, termasuk penerbangan, akan jauh lebih ringkas dengan cara ini. Memiliki boarding pass berbahan kertas keras tidak lagi menjadi hal yang penting. Cukup dengan selembar kertas tipis hasil cetak dari printer di rumah atau di kantor, asal dilengkapi barcode atau nomor konfirmasi, akses anda dijamin bisa.
Hotspot di Starbuck pun menjadi keharusan---bahkan hampir menjadi 'trade mark'. Hotspot yang semakin menjadi idola, bahkan semakin sering disediakan secara gratis.
Ketika laptop ber-WiFi dinyalakan, maka dunia menjadi lebih dekat dan kecil. Itu pula yang menjadi trend mengapa sebagian profesional memilih bekerja di rumah atau, yang penting, tidak di kantor. Banyak hal hal yang telah bisa dilakukan dari jauh, dengan mengakses internet dan mengirimkannya ke server untuk diakses klien.
Dengan teknologi informasi yang terus berkembang pesat, akan dengan sendirinya merangsang munculnya piranti yang semakin hari semakin luar biasa. Saat Jepang yang pertama sekali berhasil menciptakan berbagai macam perangkat cerdas yang dikontrol dari jarak jauh (remote), maka zaman ke depan akan semakin seperti itu. Kehadiran fisik manusia kian diminimalisir.
Jadi, ini bukan lagi hayalan dalam film Star Trek atau lainnya, [yang sekarang sudah kelihatan agak kampungan]. Ini adalah realitas masa depan. Hotspot, contohnya, hanyalah salah satu keharusan yang meluas dan semakin hot itu.
Pungkas Tri Baruna telah berpulang, dari gunung salju di Alaska.
Tengah malam hampir pagi Selasa di Los Angeles (8 Juli), tiba-tiba telepon genggam saya yang tidak pernah dimatikan berdering. Ketika diangkat, seorang mountain ranger dari Denali National Park, Anchorage, Alaska, berbicara dengan bahasa yang jelas. Ia mengabarkan tentang musibah yang menimpa Tim Ekspedisi Indonesia di Alaska, bahwa Pungkas Tri Baruno (20 tahun) telah meninggal dunia dalam ekspedisi di Kutub Utara itu.
Saya tahu bahwa Alaska bukan wilayah kerja KJRI Los Angeles. Tetapi karena hanya nomor saya yang sempat diperoleh sang Ranger untuk dihubungi di dini pagi itu, saya tampung dulu semua informasi yang disampaikannya; agar saya teruskan kepada sejawat di KJRI San Fransisco yang membawahi Alaska.
Segera setelah itu, dengan informasi yang ada saya menghubungi sejawat yang menangani bidang kekonsuleran (dan perlindungan WNI) di San Fransisco. Walau dini pagi, segala yang perlu dan mungkin, segera dilakukan dan dihubungi sejawat yang bertugas itu. Ia pun telah terbang langsung ke Alaska. Dan sekarang, informasi perkembangan musibah itu telah dibaca di media massa. Berita pers juga sudah disiarkan oleh Departemen Luar Negeri.
Pungkas telah berpulang, pukul 09.40 malam waktu Alaska, 7 Juli 2008.
Perasaan saya terasa berkecamuk waktu dini pagi itu. Bayangkan, pemuda Indonesia, yang dibesarkan di tanah tropis negeri kita, melakukan ekspedisi ke gunung McKinley di Alaska, yang hanya ada salju dan salju.
Dingin.
Pungkas memang berhasil menancapkan bendera Indonesia, merah putih, di puncak gunung di negeri salju itu. Namun, sepertid diberitakan, ketika turun ia mengalami pusing dan tidak sadarkan diri. Ia meninggal di ketinggian 5000 meter di atas permukaan laut.
Ketika hati ikut bangga atas prestasi Tim Ekspedisi Tunas Indonesia dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka itu, terasa pula duka belasungkawa yang dalam.
Juga, bendera merah putih menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-63 telah berkibar di puncak gunung yang dikenal sebagai "Denali" atau "the Great One" di Alaska.
Dalam usianya yang muda, semoga arwah Pungkas Tri Baruno mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggal menjadi tabah; dan para sahabat dan seluruh anak bangsa ikut memanjatkan doa.
LA, 9 Juli 2008
Foto Pungkas (alm) Dok Kwarnas Pramuka, seperti dimuat DetikNews.com Foto gunung McKinley dari Wikipedia.
Bagi saya, ada perasaan yang agak lain pada peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional di bulan Mei 2008 ini.
Memang, tidak akan semua orang merasa ada yang istimewa dari peringatan kebangkitan nasional. Mereka yang skeptis, begitu melihat seribu satu permasalahan nasional, cenderung akan mempertanyakan bangkit apanya. Biasalah, akan banyak saja kita yang terlalu cenderung melihat segala sesuatu dari sudut problema saja. Sebagian, bahkan sampai lupa menghargai peluang.
Yang membuat saya terharu ketika mengikuti upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu, adalah cuplikan pidato Presiden RI, yang tegas menggarisbawahi kemampuan kita, sebagai sebuah bangsa:
"... sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit, kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, ‘Bangsa Yang Bisa’! Bisa mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan, dan bisa mengatasi berbagai tantangan sejarah!"
Yang saya garis bawahi adalah soal kemauan itu; soal "kita bisa" itu. Di Los Angeles, kita pun mengadakan acara Gebyar Pendidikan Indonesia, yang dibagi ke dalam segmen simposium serius dan pentas putera-puteri Indonesia. Gebyar pendidikan ini merupakan penyatuan semangat kebangkitan (20 Mei) dan aspirasi pendidikan (2 Mei) yang keduanya diperingati di bulan Mei.
Untuk segmen pentas putera-puteri Indonesia ini, di samping menampilkan tarian bersama Alya dan teman-teman, Aisya puteri saya yang tertua, pun tampil membaca puisi: "Menjadi Anak Indonesia". Ini memang puisi dadakan yang saya tulis ringkas saja, bahkan tanpa sempat dipoles; yang penting menampilkan semangat anak Indonesia itu.
Menjadi Anak Indonesia (Dibacakan oleh Aisya Nurul Fadila Anwar)
Menjadi anak Indonesia adalah menjadi anak yang bangga terhadap sebuah bangsa yang besar
Menjadi anak Indonesia adalah pembawa harapan dan masa depan sebuah negeri yang luhur yang kaya, indah dan subur
Menjadi anak Indonesia membuat kita perlu selalu santun dan berbudi karena bangsa kita adalah bangsa yang tinggi hormat kepada orang tua, berpekerti
Menjadi anak Indonesia memberikan kita warisan lingkungan yang hijau burung-burung yang terbang, di tengah angin yang juga tanggung jawab untuk masa depan
Menjadi anak Indonesia adalah kita yang tidak hanya berkeluh kesah tetapi anak-anak yang melihat peluang adalah mereka yang berkata "aku bisa!" adalah mereka yang berkata "aku siap!" adalah yang berdiri di depan untuk ibu pertiwi
Ketika Aisya membacakan puisi ini, semua hadirin menyimak. Termasuk Bapak Konsul Jenderal RI Subijaksono Sujono dan Ibu.
Faktanya memang, anak-anak kita adalah anak-anak yang potensil. Berada di AS sekarang ini, saya melihat banyak anak-anak yang berprestasi, unggul di antara teman-temannya. Di kampus-kampus, mahasiswa kita, sampai para dosen kita, adalah mereka yang tidak kalah dalam kemampuan. Tentu kita juga tahu, bahwa di tanah air, kita bahkan punya bakat seperti George Saa yang dari Papua bisa memenangkan Olimpiade Fisika dunia. Bangsa yang bisa!
Keyakinan akan potensi dan peluang kita adalah modal kuat untuk bangkit. Ayo, katanya kita kan bangsa yang besar.
Per 23 Mei lalu, travel warning yang ditetapkan AS bagi Indonesia telah dinyatakan dicabut. Pernyataan ini disampaikan oleh Dubes AS di Jakarta Cameron R. Hume pada tanggal 25 Mei. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi menjadi negara yang bagi warga negara AS disarankan untuk tidak dikunjungi.
Saya kira, kita patut menghargai keputusan bijak AS ini, yang seharusnya memang telah dilakukan sejak lebih awal. Seperti diketahui, travel warning terhadap Indonesia telah dikeluarkan sejak November 2000.
Dengan demikian, peringatan wisata AS terhadap Indonesia justru telah dikeluarkan lebih awal daripada peristiwa 11 September di tahun 2001.
Dengan telah diubahnya status tujuan kunjungan ini, tentu diharapkan hubungan kerjasama antara kedua negara dapat menjadi semakin baik, khususnya di tingkat rakyat-dengan-rakyat (people-to-people).
Saya tahu bahwa banyak masyarakat AS yang tetap berkunjung ke Indonesia sebelumnya meskipun status warning masih berlaku. Yang telah pernah berkunjung biasanya juga membawa khabar baik bagi yang lain, bahwa Indonesia tempat yang menarik dan aman untuk didatangi.
Karena alasan travel warning, sebelum ini juga menjadi hambatan bagi kerjasama di berbagai bidang seperti pariwisata, pendidikan dan hubungan sosial lainnya. Hanya karena masalah travel warning, mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia di University of California in Los Angeles (UCLA), misalnya, justru melakukan praktek lapangan di Singapura atau Filipina, bukan di Indonesia.
Tentu kita berharap dengan ditiadakannya travel warning ini akan banyak peluang yang lebih baik dan saling menguntungkan yang dapat diraih dan dikembangkan oleh kedua bangsa, khususnya bagi rakyat Indonesia.
Beberapa waktu lalu di awal Mei, ketika penerbangan saya dari Boston tertunda sampai keesokan harinya (karena tidak dapat mengejar connecting flight), sementara koper barang bagasi tetap berangkat, saya sangat khawatir bahwa koper saya itu akan hilang atau tersangkut di bandara mana. Barangkali lumrah saja kalau saya khawatir. Karena penundaan itu, koper saya terbang dengan pesawat lain dan akan sampai terlebih dahulu, sedangkan saya baru berangkat keesokan harinya.
"Don't worry," kata petugas penerbangan yang me-reroute penerbangan, "anda cari saja nanti di bagian lost and found di Los Angeles."
Lost and found?
Tentu yang ia maksudkan adalah bagian barang hilang yang biasanya berada di salah satu sudut bandara. Apabila ada barang-barang yang tertinggal atau bagasi yang tidak diambil, semua akan dikumpulkan di bagian itu. Di AS, semua barang yang ditemukan biasanya akan diindeks rapi di sistem komputer mereka, maka peluangnya cukup aman. Tentu, asalkan barang itu tidak diambil orang lain.
Sedikit mundur ke belakang (flash back), ketika di tahun lalu saya, atasan dan teman-teman sempat diundang hadir dalam acara peringatan ulang tahun Jalaluddin Rumi yang diselenggarakan komunitas Naqsabandi Los Angeles, hadir sebagai pembicara utama adalah Syaikh Hisham Kabbani. Itu adalah kali pertama saya menghadiri suatu acara dialog [antar agama] yang diselenggarakan kelompok yang dipimpin Syaikh Hisham ini.
Terus terang, figur sang syaikh menawan sekali; berwajah bersih bercahaya, bersikap tenang dan mengeluarkan suara yang sangat lembut. Ketika bersalaman, duduk dan berbincang singkat dengan beliau, terasa ada kharisma yang luar biasa dari dirinya.
Ketika akhirnya acara dimulai dan sajak-sajak Rumi yang bernafaskan kehilangan dan pencarian diri dibacakan, Syaikh Hisham terlihat menyimak dengan dalam. Lantas, ketika ia pun tampil untuk bicara, ia berkata-kata dengan agak berat, dengan mata yang memancarkan sesuatu yang dicari.
Ia menyatakan betapa dalamnya makna sajak-sajak Rumi itu; sebuah pencarian diri yang sangat tinggi (sublime). Kemudian ia mengatakan bahwa tadi, ketika masih duduk di ruang tunggu, ia melihat sebuah tulisan di papan pengumuman---lost and found. Katanya, ia jadi teringat barang bagasi di bandara yang kalau hilang, harus dicari di bagian lost and found. Ini memang hal sederhana, katanya, tetapi hakikat kebertuhanan pun sering menyerupai proses yang hilang dan ditemukan kembali ini. Semangat ini juga ditampakkan dalam pencarian Rumi.
Lebih jauh Syaikh Hisham mengatakan bahwa kadangkala setelah kita kehilangan barulah dapat menemukan kembali jati diri yang sebenarnya. Menurut syaikh yang selalu bersorban ini, adakalanya ia sengaja membiarkan diri hilang, namun ia juga yakin akan kembali menemukan. Demikianlah tokoh sufi AS itu memaknai hubungan dengan Tuhan. Lost and found!
Saya memang tidak punya kecenderungan khusus dalam berIslam; bahwa mengikuti aliran ini atau tarikat itu. Bahkan tidak risau dengan keberagaman organisasi massa mana pun. Melihat figur Syaikh ini, saya hanya menggarisbawahi kesantunan dan kejelasan tutur katanya, bukan tarikat Naqsabandi (Haqqani) atau Islamic Supreme Council of America yang dipimpinnya. Meski pun di Amerika sendiri ia merupakan figur kontroversial karena pernah mengatakan bahwa 80% organisasi umat Islam di AS telah disusupi kalangan radikal, sang syaikh jelas mempunyai karisma yang kuat. Apabila anda sempat membaca buku seperti American Islam-nya Paul M. Barret yang memuat sebuah bab tentang Hisham sebagai tokoh sufi, barangkali anda akan semakin mengenalnya.
Bagi saya, yang paling mengena ketika bertemu Syaikh Hisham Kabbani itu adalah perihal kehilangan dan tertemukan ini. bahwa perjalanan hidup kita akan selalu diuji dengan segala bentuk keterhilangan; bahkan 'ketersesatan'. Jangankan dihadapkan dengan situasi yang lebih kompleks dan mencabar, dalam menghadapi soal-soal rutin saja pun kita dapat saja terbawa dan hilang. Sesaat; atau bahkan lama. Faktanya, bersyukur ketika diberi rahmat dan bersabar ketika diberi cobaan, adalah diktum tajam yang sangat sulit dilaksanakan secara optimal. Ketika kita terhilang, maka rahmat yang diberikan, menjadi hal biasa, yang tak tersyukurkan. Ketika datang cobaan, menjadi hilang kesabaran.
Demikianlah hubungannya dengan filosofi lost and found ini. Kehidupan dengan seluruh warna-warnanya sangat mungkin membawa diri 'hilang', bahkan semakin jauh. Yang menjadi pertanyaan berat, apakah nanti akan masih tertemukan?
Waktu penerbangan saya tertunda cuaca buruk sehingga tidak akan bisa mengejar connecting flight di awal Mei itu, saya betul-betul diuji untuk yakin bahwa koper saya akan sampai dengan selamat di Los Angeles dan dapat diambil di bagian lost and found. Saya jadi teringat bukan dengan film Lost and Found (1999) yang dibintangi David Spade dan Sophie Marceau, tetapi kata-kata Syaikh Hisam Kabbani di tahun lalu.
Benar, yang menjadi pertanyaan berat, setelah terhilang itu, seberapa pastikah ia akan tertemukan? Lalu, ketika mendarat di Los Angeles keesokan harinya dan bergegas ke bagian klaim bagasi, segera saya mencari ke bagian lost and found. Ternyata, tanpa bersusah-susah, koper saya yang pegangannya diikat pita penanda berwarna hijau itu segera saja terlihat di barisan koper yang ada. Petugas penerbangan di Boston itu benar, koper saya betul tersimpan di bagian lost and found.
Semua ini menjadi perbandingan bagi saya tentang memaknai agama sebagai manusia yang dhaif. Ketika terhilang, entah seberapa jauh atau apa pun sebabnya, adalah perlu untuk selalu yakin menemukannya kembali. Lost and found, kata Syaikh Hisham Kabbani.
Lanjutan saja, tetapi lebih kepada sejarah peradaban kuno di benua Amerika. Tentang Aztec dan Maya, dan lainnya. Museum ini memang besar dan cukup kompleks koleksinya. Termasuk koleksi gem dan sejarah California.
Aisya dan Alya suka main ke Natural History Musem Los Angeles. Kalau anda telah menonton film Night at the Museum (2006), film komedi yang dibintangi Ben Stiller ini mengambil setting di Natural History Museum, memang bukan yang di Los Angeles, tetapi New York. Hanya saja, penataan NHM ternyata sangat mirip satu dengan lainnya. Jadi terasa sekali.
Anak-anak pun jadi suka datang ke musium ini. Sudah beberapa kali memang, tapi tetap saja suka datang lagi. Sudah banyak foto-fotonya, walau pun ini baru kali pertama diunggah agak banyak di blog ini.
Foto-foto hewan berikut adalah karyanya Kakak Aisya, dengan dibantu Ayah di sana-sini, untuk fokus, angle dan editing ringan. (Kecuali tentunya kalau yang difoto Aisya-nya sendiri). Sebagian cukup bagus; coba bandingkan dengan foto profesional dari museum itu sendiri.
Salah satu tantangan terbesar bagi seorang guru, di tingkat apa pun itu, adalah bagaimana merebut atensi anak didiknya secara penuh, agar seluruh potensi mereka tergali dan terasahkan.
Di tingkat pendidikan dasar, tantangan ini dapat lebih runyam lagi. Bagaimanapun, merebut perhatian anak-anak selalu gampang-gampang susah. Anak-anak tentu memiliki rentang perhatian yang lebih pendek (short attention span) dalam berbagai hal, terutama apabila kiat-kiat untuk memperpanjang daya fokus mereka diabaikan.
Guru senantiasa dituntut untuk selalu kreatif dan dinamis dalam merebut hati dan konsentrasi anak didik, apabila ilmu yang diajarkan ingin betul-betul terserap.
Pasti ada berbagai cara. Tetapi, sebagai sebuah kiat ringan yang cukup efektif adalah penentuan "student of the week". Penentuan "murid pilhan minggu ini" dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang, tergantung bagaimana sasaran yang ingin dicapai guru sesuai dengan kebutuhan objektif kelas yang diasuh.
Memang, format ini tidak jauh beda dengan pemilihan "pegawai teladan" (employee of the week) yang banyak diterapkan jaringan restoran fastfood atau perusahaan berbasis prestasi layanan lainnya. Yang berbeda tentu detil sasarannya saja.
Putri saya Aisya yang duduk di kelas dua (second grade), minggu lalu menjadi student of the week. Ia pulang dengan gembira di hari Jumat sebelumnya, lengkap dengan surat dari Ibu guru yang menjelaskan tentang profil dan tugas murid pilihan dalam seminggu itu.
Selembar kertas seukurang poster dibawa pulang, yang harus diisi dengan hal-hal menyangkut diri Aisya, foto-foto, termasuk foto keluarga, makanan kesukaan, hobi, cita-cita dan sebagainya. Poster "All About Aisya" ini dipampangkan di dinding luar kelas selama minggu pilihan. Selain itu, si murid dititipkan sebuah boneka beruang, Mr. Bear, yang harus dijaga dan dirawat sang murid. Demikian pula sebuah buku harian, "Dear Journal", yang harus diisi setiap harinya, tentang kegiatan yang dilakukan di sekolah, di rumah, atau hal-hal menarik lainnya.
Dari pengamatan saya, ini kiat yang positif. Sebab, terbukti bahwa Aisya terlihat antusias; setiap pulang sekolah ia asyik menuliskan kisah yang dialami dari sudut pandang Mr. Bear. "Dear Journal, today Aisya and I have some fun at school......."
Benar, saya melihat ada kemajuan yang penting dalam kemampuan mengarangnya. Aisya bahkan antusias untuk sharing cerita-cerita yang ditulis dalam buku harian itu di depan kelas pada Selasa, 19 Februari ini.
Intinya memang, penentuan murid pilihan minggu ini merupakan kiat yang dapat mengangkat moral sang anak. Selain itu, sekaligus melatihnya untuk bertanggung jawab (dengan merawat Mr. Bear) dan diuji kemampuan mengarang dan berfikir kreatifnya. Keseluruhan kegiatan itu bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar, sementara semangat sang anak meningkat.
Semakin saya perhatikan lebih lanjut, dalam forum maya para guru Amerika seperti di A-to-Z Teacher Stuff---Teacher Resources, Lesson Plans, Themes, Tips, Printables and more, berbagai kiat diterapkan oleh para guru yang memang penuh dedikasi itu. Salah satu yang lazim dilakukan termasuk format student of the week, yang disesuaikan dengan tingkatan dan situasi kelas masing-masing. Ada juga guru yang menggunakan metode Star of the Week, yang memberikan kesempatan untuk murid menampilkan segala kelebihan dan kemampuannya.
Dari pengalaman Aisya sebagai student of the week ini, saya [yang memang berasal dari keluarga guru] semakin mengerti perasaan seorang guru, ketika sekali waktu tahun lalu diundang sebagai hadirin dalam pertemuan guru-guru berprestasi se-AS. Terbaca ada perasaan bangga yang bermartabat di mata guru-guru pilihan itu. Betul, pertemuan itu semacam forum "teacher of the year".
Sersan Joe berdiri tegap dengan tangan kanan di dahi, dalam posisi hormat yang khidmat. Matanya lurus, terpusat ke satu arah.
Ia masih muda. Rambutnya dipotong tipis, dengan postur tubuh hasil dari latihan fisik yang keras. Tidak diragukan lagi.
Dari usianya, ia tidak mungkin seorang veteran yang terlibat dalam perang Korea, Vietnam atau Afghanistan. Ia bukan dari generasi Rambo. Paling-paling ia ikut di perang Teluk, atau yang lebih populer, perang setelah 9/11. Barangkali ia ikut dalam penghancuran Afghanistan atau Irak. Yang jelas, perang telah terlalu sering; dan meninggalkan luka yang bermacam-macam.
Ia tidak mengenakan pakaian dinas. Cuma celana jeans hitam, sepatu jalan dan kaos oblong warna gelap. Sebuah travel bag berukuran cukup besar tergeletak begitu saja di kakinya. Barangkali karena sikap hormat yang tiba-tiba.
Di perempatan jalan raya itu, mobil-mobil berjalan kencang, ramai sekali. Tak putus-putus.
Sersan Joe berdiri tegak menghadap. Matanya lurus menatap lampu hijau yang menyala itu. Menghormat; dengan sangat khidmat.
Anda senang komik? Saya dan anak-anak senang. Yang jelas, belakangan ini kami sedang gandrung komik Bone buah karyanya Jeff Smith. Setahu saya, komik Bone ini telah pula diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan telah diterbitkan berseri [oleh Pionir Jaya]. Entah sudah seri ke berapa sekarang?
Ceritanya begini. Waktu berkunjung ke Barnes & Noble dekat rumah, kebetulan serial komik Bone-nya Jeff Smith juga dipamerkan. Waktu saya bolak-balik, kelihatannya menarik dan bisa untuk anak-anak. Apalagi, dengan penerbit Scholastic yang memang unggul di lini penerbitan buku anak-anak dan buku sekolah. Lalu, saya bawa pulang seri pertamanya, "Out from Boneville".
Saya pun membacanya---mula-mula sekedar untuk menyeleksi kandungan lengkapnya, cocok tidak buat anak. Ternyata, setelah sampai ke tangan Aisya, buku itu terbukti meninggalkan rasa suka. Seperti serial bersambung lainnya, jika anda suka, maka akan penasaran. Mana seri berikutnya?
Serial Bone ini menarik karena sederhana dan lucu. Ia cukup unik, karena ia merupakan sebuah novel grafis dalam sembilan seri yang setting ceritanya dinilai punya pola a la Lord of the Ring-nya Tolkien. Seperti LOTR, Bone mempunyai format dunia yang tersendiri, lengkap dengan makhluk-makhluk dan lingkungan alamnya yang khas.
Dalam seri Bone ini tokoh utamanya adalah keluarga Bone asal Boneville, yang terdiri dari Fone Bone yang baik hati, Phoney Bone yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan dan Smiley Bone si perokok yang tidak pernah berhati susah.
Tokoh sentral lainnya adalah Thorn Harverstar sang puteri, nenek Ben, Lucius, Ted si serangga dan sang naga merah. Karena semua kisah selalu ada teman dan lawan, dari rombongan di seberang ada Lord of the Locus yang sangat misterius, the Hooded One yang selalu berkedok, Kingdok pimpinan makhluk tikus (rat creatures) dan lainnya. Dari kalangan tokoh buruknya ini tentu yang paling lucu dan suka membuat kita terpingkal-pingkal adalah dua makhluk rat creatures yang namanya pun cukup Stupid, Stupid Rat Creatures.
Komiknya Jeff Smith ini terbukti cepat menawan hati pembaca. Ia unggul membawa suasana tegang dan lucu dengan tempo yang pas dan enak. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa serial Bone-nya Jeff Smith ini berasal dari komik independen yang semula berbasis self-publishing. Jadi, siapa bilang penerbit indie tidak bisa sukses besar?
Seperti ditulis di Wiki, seluruh buku Bone sebetulnya hanya terdiri dari sembilan bagian, namun karena diterbitkan sendiri (self publishing), ia mula-mula hadir dalam 55 jilid yang waktu munculnya tidak beraturan. Itu pun dalam tenggang waktu yang cukup panjang, dari tahun 1991-2004.
Hanya saja, sebuah karya bagus, bagaimana pun jalannya, pasti akan mengena di hati penggemar. Cepat atau lambat, ia berkembang dan mendapat basis. Demikian pula serial Bone ini. Bukan saja Bone telah mendapat sederetan panjang penghargaan, sekarang sedikitnya ia pun telah diterjemahkan ke dalam 1516 bahasa asing,. Belum jelas bagi saya, apakah itu sudah termasuk bahasa Indonesia.
Bone seri hitam putih dengan gambar dan cerita oleh Jeff Smith terbit lebih duluan dalam satu edisi dengan ketebalan lebih dari 1300 halaman, namun edisi berwarna yang dalam 9 buku justru mendapat sambutan hangat. Untuk edisi berwarna ini, Steve Hamaker yang menjadi juru warna. Saat ini, seri ke-7, Ghost Circle, masih ditunggu peluncurannya. Setelah itu tentunya dua seri terakhir, Treasures Hunters dan Crown of Horns.
Bone sepertinya sudah ditakdirkan untuk digemari. Seperti ditulis di website resminya Bone, The History of Bone and Jeff Smith, komik lucu ini demikian dicari anak-anak sehingga para pustakawan heboh mencari dan mendapatkannya untuk koleksi perpustakaan. Dikatakan, ini adalah novel grafis yang paling banyak dicari di perpustakaan.
Satu lagi acungan jempol buat self-publishing.
LA, Okt/Nov 07
(diedit ulang atas masukan Penerbit Pionir Jaya yang mencetak edisi Indonesianya, 16/11/07)
Bagaimana pengalaman anda menyetir mobil di negara lain?
Pengalaman tentu bisa bermacam-ragam. Yang pasti, kalau menurut putri kecil saya, Alya, yang berusia 3 tahun, menyetir itu gampang. Kalau sudah besar, ia akan menyetirkan bunda belanja atau ayah beli DVD. Beli DVD? Ini memang tidak terlalu relevan; cuma karena ia tahu saya senang nonton film. Yang relevan justru soal menyetirkan itu.
Memangnya adek bisa bawa mobil?
"Bisa," jawabnya yakin. "Adek masukin kuncinya, baca bismillah, jalan deh....."
Si Alya tentu belum bisa menyetir, walaupun sudah lancar baca bismillah. Bahkan, sesuai peraturan keselematan di AS, duduknya pun di kursi belakang masih harus memakai booster. Yakni, alat bantalan duduk yang menjadi suplemen jok, agar anak balita dapat duduk lebih tinggi dan safety belt dapat dipasangkan.
Menyetir di AS yang peraturan lalu lintasnya lebih tertib memang terkesan gampang. Namun, namanya juga sebatas kesan, maka keadaan sesungguhnya bisa saja tidak selalu semudah itu.
Betul, para pengendara mobil di AS (atau umumnya negara-negara Barat yang telah maju) lebih taat peraturan lalu lintas. Penyebabnya tentu bukan sekedar karakter moral yang sedemikian rupa, melainkan lebih karena sanksi hukum itu sendiri ditegakkan. Pelanggaran lalu lintas betul-betul terancam sanksi dan hukuman; dan itu tidak bisa diselesaikan lewat tawar-menawar di sisi jalan dengan polisi lalu lintas.
Walaupun lebih tertib, tabrakan dan kecelakaan lalu lintas pun tetap terjadi. Manusia dapat saja silap; yang lebih sering tentu karena lengah. Yang terburu-buru atau terlalu bernafsu, apalagi mereka yang menyetir sambil mengantuk atau mabuk, dapat saja menjadi pemicu kecelakaan. Bahkan membuat mereka yang telah menyetir secara aman (safety driving) pun dapat terkena getahnya. Numpang sial kena senggol, misalnya.
Memang, resiko kecelakaan terbesar di kota-kota besar AS tetap saja di freeways yang panjang dan berlapis-lapis. Untuk wilayah California yang terkenal karena jaringan lalu lintas freeway-nya, hal ini menjadi lumrah saja. Sekalipun ada batas kecepatan, tetapi kepadatan kendaraan yang melaju dengan
kecepatan tinggi dengan sendirinya membawa peluang kecelakaan. Menurut sebuah laporan LA Times, Los Angeles pun berada pada tingkat 5 kota besar teratas dalam hal resiko kecelakaan jalan raya di Amerika.
Kendati demikian, suatu hal yang paling saya acungi jempol dalam budaya menyetir di AS adalah penghormatan terhadap pejalan kaki. Apa pun situasinya, pejalan kaki selalu lebih dahulu kemaslahatannya dan dalam segala sesuatu kejadian pun akan berada pada posisi yang terbela. Pejalan kaki dapat salah dan kena denda, tetapi pengendara bisa lebih salah lagi jika mengabaikan hak mereka. Jika anda baca buku manual Driver's Handbook dari dinas lalu lintas atau Department of Motor and Vehicle (DMV) ketika anda mengajukan permohonan surat izin mengemudi, maka penekanan pada kepentingan pejalan kaki akan terlihat menonjol.
Sejak halaman pertama pun akan anda temukan penekanan pada menyetir secara aman; bahwa hak untuk menyetir itu dapat membahayakan orang lain. Yang lebih penting tentunya bahwa 'teori' dalam buku manual itu ditaati dalam 'praktek' di jalan raya. Jadi, bukan sekedar kata-kata yang tidak diindahkan dalam kenyataan lalu lintas yang sesungguhnya.
Itu sebabnya, apabila anda menyetir di Amerika, para pengendara sangat berhati-hati apabila bertemu dengan pejalan kaki, terutama di tempat penyeberangan (pedestarian crossing). Demikian pula apabila berpapasan dengan bis sekolah.
Lebih menarik lagi adalah bagaimana prioritas jalan yang diberikan kepada mobil ambulan, pemadam kebakaran dan polisi yang menyalakan sirine. Apabila terdengar aungan sirine itu, semua mobil akan meminggir dan berhenti, untuk memberikan jalan kepada mereka, tak kenal waktu, tempat atau situasi. Sanksinya serius apabila pengendara menghalangi mereka menjalankan tugasnya. Boleh jadi ada situasi darurat kebakaran, peristiwa kriminal atau pasien sekarat dan lainnya.
Ada juga hal menarik menyangkut perempatan lampu merah di dalam kota. Ketika lampu kuning bersiap merah, sebaiknya anda berhenti saja. Tak perlulah bersigegas menjadi jagoan menembus lampu itu. Pertama, ada kemungkinan anda akan ditabrak mobil dari sisi lain yang akan menyeberang. Yang kedua, bisa saja anda sial karena di perempatan itu ada kamera pemantau dan klik, foto anda dan plat nomor mobil tertangkap, lalu tunggulah di rumah surat denda. Kata orang, foto diri paling mahal di AS adalah foto ketika melanggar lampu lalu lintas---bisa kena $200,-.
Kalau pun ternyata tidak terfoto kamera, menyerobot lampu merah tetap akan sia-sia, karena paling hanya belasan meter ke depan saja yang dapat dikejar, sebab di depan toh lampu lalu lintas berikutnya tetap juga akan berwarna merah.
Kecuali soal asuransi kendaraan yang bersifat wajib dan rate-nya terasa mencekik, budaya menyetir secara aman di AS ini memang perlu dicontoh dan dijadikan budaya lalu lintas kita juga. Menyetir ugal-ugalan memang jarang ditemukan. Hati-hati, soalnya pengendara lain dapat saja melaporkan lewat nomor plat kendaraan anda yang tersimpan dengan baik dalam sistem database kepolisian.
Juga, karena budaya menyetir aman ini, orang-orang tua pun merasa percaya diri untuk tetap menyetir mobil sendiri kesana kemari. Saya kenal beberapa ibu yang telah berusia 70-80 tahunan yang masih tetap menyetir sendiri, bahkan rumahnya pun tergolong jauh. Ternyata budaya safety driving juga kondusif bagi kalangan usia lanjut yang tetap independen.
Sabtu pagi dan sore, 20 Oktober Bunda masih asyik jalan-jalan dan Ayra masih dalam kandungan. Minggu tengah malam pukul 12an, masuk rumah sakit dan dini pagi Senin, pukul 1.02, Ayra lahir ke dunia.
Foto-foto Ayra dalam hari-hari pertama kelahirannya......
Ayra, puteri ketiga kami itu, lahir pada tanggal 22 Oktober 2007 pukul 01.02 Senin dini pagi.
Alhamdulillah, ia lahir dengan lancar dan sehat, bahkan dalam proses waktu yang relatif pendek. Ia bahkan lahir secara normal seminggu dari operasi Caesar yang dijadwalkan. Memang, hanya Tuhan pemilik segala rencana.
Ia pun menangis, tetapi tidak berlarut-larut. Matanya cepat memandang, namun ia pun tidur dengan nyaman tak lama kemudian.
Ayra puteri yang manis. Wajah bayinya sangat mirip dengan kakaknya Alya.
Si Adek Alya pun yang sudah siap-siap mendapatkan adik kecil telah suka menyebut dirinya Kak Lia. Tanggal 22 Oktober itu, Alya pun resmi menjadi kakak, bersama Kakak Aisya.
Ayra adalah puteri kami satu-satunya yang lahir di luar negeri. Aisya masih bayi ketika di bawa ke luar negeri; Alya masih dalam kandungan begitu kembali ke Indonesia. Kedua kakak itu lahir di Jakarta. Ayra lah yang dikandung dan lahir di Amerika.
Oleh sebab itu, sesuai dengan UU Kewarganegaraan RI yang baru, ia pun lantas berhak memegang status dua kewarganegaraan, Indonesia dan AS. Sampai berusia 18 tahun, barulah memilih sepenuhnya untuk menjadi warga negara Indonesia. Paling tidak begitu kata saya sebagai ayahnya yang takkan rela meninggalkan keindonesiaannya.
Tentang nama; ketiga puteri kami punya pakem tersendiri. Aisya, Alya dan Ayra, tiga A yang berasal dari bahasa Arab dengan makna yang baik dan nada pengucapan yang tetap modern. Ayra berarti terhormat, nurul sebagai cahaya, sedangkan ajwa adalah pohon kurma yang ditanam oleh Nabi.
Karena nama adalah doa, kiranya Ayra Nurul Ajwa nanti menjadi muslimah yang bermartabat; yang menjadi cahaya; dengan jiwa tangan di atas. Kiranya kehadirannya membawa banyak keberkahan.
Ayra Nurul Ajwa menghirup udara dunia tanggal 22 Oktober ini. Ialah cahaya mata kami yang bungsu.
Biasalah, apabila sempat saya suka menjelajahi toko buku seperti Barnes&Noble atau Borders, sekedar melihat-lihat. Jika ada buku yang demikian menarik hingga harus dibawa pulang, maka dibelilah.
Kemaren, hari Minggu itu, saya ingin mencari buku antologi puisi Amerika, kalau dapat yang paling mutakhir. Jadi, bukan sekedar koleksi lama berisikan karya besar dari yang dulu dulu itu.
Kalau anda ke Gramedia di tanah air dan mencari buku puisi, kadang akan beruntung menemukan satu atau dua. Naik turunlah peluangnya. Namun, yang pasti, bila dibandingkan dengan berbagai buku novel, asing maupun lokal, pasti sangat jomplang (timpang) perbandingannya. Buku puisi tetap barang langka.
Namun jangan sangka bahwa di AS situasinya akan berbeda. Kalau anda jelajah pun kedua toko buku terbesar AS itu, belum tentu anda akan beruntung.
Itu pula yang saya lakukan ke Barnes & Noble dan Borders. Yang ingin saya dapatkan adalah buku The Best American Poetry 2007 yang disunting oleh Heather McHugh. Ini buku antologi puisi yang memuat sajak-sajak penyair Amerika terkini seperti Louise Glück, Robert Hass dan Richard Wilbur yang lebih mapan maupun yang baru seperti Ben Lerner, Meghan O'Rourke, Brian Turner, dan Matthea Harvey.
Dalam buku itu bahkan juga tercantum nama Kazim Ali, seorang penyair muslim dan profesor sastra AS yang sekali waktu pernah disangka teroris yang menaruh kotak bom di tong sampah. Tentu saja tidak! Ia hanya seorang campuran Mesir India yang berwajah Asia Selatan---bahkan bukan Arab, bagi yang tahu.
Namun buku antologi 2007 itu tidak saya temukan. Padahal ketika dicek dalam katalog komputer disebutkan ada. Mm, tepatnya "likely in the store"; jadi bukan persis dan pasti seperti kata 'available'.
Lalu, ketika saya telusur terus, mencari yang lain-lain, tak juga banyak berarti; tak ada buku puisi. Di antara jajaran panjang buku-buku novel populer yang laris, termasuk yang tergolong sastra, tak tersedia buku-buku puisi. Tampaknya, kalau pun pasti ada toko buku yang menyediakan, maka itu bukanlah berarti di semua toko, sebesar apa pun ia.
Sama seperti di Indonesia; jejak sajak cukup sulit dilacak.
Hal ini sebetulnya menjadi agak ironis mengingat penelitian Universitas Chicago mengatakan bahwa masyarakat AS cukup akrab dengan puisi. Dari data, 64% responden AS menilai bahwa masyarakat perlu lebih banyak membaca puisi, karena dinilai memberikan pemahaman yang dalam. Dua pertiga dari responden menempatkan penyair pada posisi yang terhomat, sedangkan 70% ingin bertemu penyair dan 60% ingin bertemu sesama penggemar puisi.
Artinya, sekalipun pasti ada bias dalam hasil penelitian National Opinion Research Center (NORC) dari Universitas Chicago itu, dunia puisi bukan demikian termarginalisasi di negeri ini.
Sayangnya, ketika saya ke Borders dan Barnes&Noble, buku puisi terbukti masih juga langka, tetap terpinggirkan. Apa mungkin ini hanya pengalaman saya sendiri? Yang jelas, terpaksa memesan secara online lagi. Amazon.com lagi tampaknya.
Hari Senin ini, yakni setiap Senin kedua di bulan Oktober, adalah hari yang di AS disebut sebagai Columbus Day atau peringatan hari berlabuhnya kapal Columbus di Dunia Baru (New World) pada tanggal 12 Oktober 1492.
Christopher Columbus yang berasal dari Genoa memang salah sasaran. Pelayaran yang dimulainya dari Palos, Spanyol pada 3 Agustus itu, alih-alih sampai ke India dan terus ke negeri rempah-rempah di Asia Tenggara, armada yang dipimpinnya justru mendarat di kepulauan Bahama, Amerika dua bulan kemudian.
Bagi pengkritik hari Columbus yang justru melihat datangnya Columbus ke daratan Amerika sebagai permulaan berita buruk bagi penduduk asli Indian, salah arah yang dilakukan Columbus ini terkesan konyol. "You can't be more off-course than one half of the world," kritik Russele Means, seorang pejuang hak-hak suku Indian, yang berasal dari suku Oglala Sioux.
Tetapi, benarkah Columbus yang pertama kali menginjakkan kaki ke tanah yang sekarang menjadi negara adidaya (super power) dunia ini?
Faktanya, melalui berbagai penemuan sejarah lainnya, diakui bahwa Columbus bukanlah yang pertama. Para penjelajah Viking telah membangun koloni di Greenland dan the Newfoundland atau Amerika sejak 1000 M atau sekitar 500 tahun lebih awal dari Columbus. Menurut kajian Gavin Menzies, 1421: The Year China Discover America, para pelaut Cina yang dipimpin Laksamana Zheng He yang menemukan Amerika di tahun 1421. Ini pun masih lebih awal sekitar 70 tahun daripada Columbus. Memang masih ada berbagai kontroversi yang terjadi; sebagian bahkan dengan sangat bergairah menyangkal kesimpulan Menzies.
Memang, yang paling membedakan semua mereka yang mendarat di daratan Amerika ini adalah bahwa Columbus aktif mempopulerkan temuannya. Orang-orang Viking barangkali hanya singgah dan menaklukkan, penuh darah, namun setelah itu selesai. Kalau anda sempat menonton film Pathfinder: Legend of the Ghost Warrior garapan Marcus Nispel (2007), paling tidak akan tertangkap bayangan bagaimana para penakluk Viking berkelakuan. Betul bahwa film tersebut pun bukan dokumentasi sejarah, tetapi settingnya yang dipaskan dengan periode kesinggahan orang-orang Viking di Newfoundland ini akan meninggalkan jejak dalam tabula rasa kita.
Zheng He pun, sekiranya ia yang lebih dahulu sampai, tidak meninggalkan jejak peradaban yang menimbulkan perubahan. Mungkin benar bahwa ayam yang beranak pinak di Chili berasal dari ternak armada Zheng He waktu singgah, namun tidak banyak yang berubah selain hanya sejak sejarah.
Columbus, begitu tersesat dan mendarat di Amerika, pulang ke Eropah dan memperkenalkan negeri yang baru diinjaknya itu dalam laporannya ke royal court di Madrid. Ia memang bukan sekedar menjelajah dunia untuk kesenangan, melainkan untuk memulai penaklukan dan penjajahan. Kalau dibaca kalimat-kalimat dalam jurnalnya, ia memang melihat kebaikan suku asli Indian di daratan Amerika lebih sebagai peluang penaklukan. Faktanya setelah Columbus, gelombang penakluk dan pemukim pun berdatangan dan bermula. Sejak kedatangan Columbus, ditaksir bahwa 85% dari warga suku Indian menjadi punah hanya dalam tenggang waktu 150 tahun. Perjalanan sejarah peradaban manusia memang kompleks; yang mengalami pahit, dan yang meraih gemilang.
Memang peringatan Hari Columbus di AS pun tidak merata secara nasional. Di wilayah-wilayah yang banyak suku Indiannya, peringatan ini diarahkan ke titik yang lebih produktif. Apakah sebagai hari Suku Asli Amerika (Native American Day) seperti di North Dakota; sementara di Nevada, ia menjadi hari yang lebih membawa nuansa keprihatinan---a day of observance.
Selanjutnya, sebagai sebuah langkah yang produktif dalam memaknai sejarah, wakil-wakil suku Indian dari berbagai wilayah dan negara di Benua Amerika pun mendeklarasikan di Davis, California pada tahun 1992 bahwa tanggal 12 October sebagai International Day of Solidarity with Indigenous People.
Sebagai pertanyaan lagi, apabila di sebuah negeri telah ada orang aslinya, apakah masih pantas dikatakan bahwa negeri itu ditemukan oleh orang lain, seperti Columbus? Barangkali, tanggal 12 Oktober ini hanyalah hari sampainya Columbus ke Amerika.