What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Seberapa kental rasa suka anda terhadap dunia persilatan? Baiklah, bukan soal ilmu bela diri per se, tetapi soal pengisahannya, hikayatnya, komiknya, filmnya dan sebagainya?
Saya termasuk penggemar berat. Kalau anda baru saja menonton film animasi Kungfu Panda (2008) yang baru saja dirilis di bioskop, tentu suasananya akan semakin terasa. Bukan soal animasinya, atau fakta bahwa film ini dibuat oleh Dreamworks bukan Golden Harvest berbasis Hongkong; oleh sutradara Barat, berbintangkan Joe Black sebagai sang panda gemuk, Po, dan seterusnya. Sebagai film dengan rating PG, ini animasi lucu yang manis saja, termasuk penampilan sang guru (shifu) oleh Dustin Hoffman yang dibuat mirip Obi Wan Kanobi-nya Star Wars. Tetapi, bagaimana pun ini memang film silat, lengkap dengan pakem persilatan yang sangat khas Daratan Cina.
Apapun format penyuguhannya, termasuk film animasi, hikayat dunia persilatan bagi saya sangat mengesankan. Ketika dulu kecil dan belum masuk sekolah, ketertarikan saya untuk bisa membaca teks komik-komik persilatan yang penuh gambar menarik itu telah memotivasi untuk cepat-cepat pandai membaca. Hanya di kwartal pertama di kelas satu, saya sudah langsung lancar membaca. Berkat komik persilatan.
Selain komik, tentu semua tahu tentang deretan panjang cerita silat buah karya Khoo Ping Ho. Berpuluh-puluh jilid cerita silat berbentuk stensilan itu dilahap habis penggemar dunia persilatan dari tanah Tiongkok. Tak usahlah disebutkan lagi nama-namanya atau jurus-jurusnya. Yang pasti semua penuh kehebatan; lengkap dengan jurus-jurus mumpuni dengan ilmu meringankan tubuh (ginkang) yang tinggi.
Memang bagi saya, setiap kali disebutkan tentang dunia persilatan, ada sebuah imagi otak yang selalu berulang. Kata orang yang mendalami psikologi, kenangan imagi pertama yang muncul dalam benak kita setiap kali dirujukkan sesuatu hal adalah gambaran yang paling mewakili dasar ingatan kita.
Bagi saya, setiap kali dunia persilatan itu disinggung, kelebatan ingatan yang tampil sebagai bentuk asosiasi dari konteks itu bukanlah dari Legend of the Condor Heroes, perguruan Shaolin atau lainnya. Herannya, yang selalu muncul di benak saya adalah seorang pendekar pedang yang berjalan menuju sebuah rumah kecil tepat di sisi kaki ngarai yang bersemak hijau rimbun, dengan pohon-pohon besar di belakangnya. Udara saat itu terasa sejuk, seperti saat setelah turunnya sedikit hujan yang melembabkan.
Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, tetapi bagi saya itulah bentuk asosiatif yang selalu hadir. Seingat saya, setting cerita komik itu menampilkan seorang pendekar bernama Mahesa. Judulnya pun telah lupa, tetapi suasananya terasa lengket sekali. Apakah itu karya Djair, Jan Mintaraga, Ganes TH atau siapa, tak lagi saya ingat persis. Namun ia menjadi kenangan batin yang melekat, terbawa ke mana-mana.
Dunia persilatan ini memang merupakan pembeda antara sejarah perhikayatan dunia kepahlawanan di Barat dan Timur. Meskipun sama-sama diwarnai benang merah pertarungan antara baik dan buruk yang selalu memunculkan pahlawan penegak keadilan, tetapi tema besar (dasar) ini diwujudkan dengan metode yang berbeda.
Ketika di Barat, kehebatan selalu dibasiskan pada senjata keras, baju besi, kuda dan akhirnya senjata api, tembak-menembak para koboi, di dunia Timur, kisah masa lalu lebih berbasiskan upaya memantapkan diri pada filosofi batin, melalui tapa meditasi, latihan gerak tubuh dan jurus-jurus. Para pendekar mempelajari ilmu kebal, bukan dengan memasang pelapis baja, tetapi ketahanan dari dalam.
Dalam seribu satu legenda yang diceritakan, para pendekar itu pun dikisahkan memiliki ilmu tenaga dalam yang mumpuni, bahkan dengan kemampuan meringankan tubuh sedemikian rupa sehingga seperti bisa melayang dan terbang. Itulah sebabnya mengapa dalam hikayat para pendekar kita, kedalaman sebuah ilmu justru akan semakin mengambil bentuk yang halus (subtil) dan tidak mencolok.
Seorang pendekar pedang mumpuni yang turun gunung, di mata saya, bukanlah sebuah figur sombong yang menggotong pedang besar ke mana-mana. Akan tetapi adalah seorang jelata yang bahkan pedangnya pun demikian tersamar seperti tidak penting. Sebab, semakin mumpuni seorang pendekar pedang semakin tidak penting bentuk fisik pedang itu. Seperti seorang ahli sufi, pendekar pedang sejati tentu sudah mencapai tingkat kedalaman yang tinggi, sehingga dapat menggunakan apa saja sebagai pedang, sepotong ranting sekali pun.
Demikianlah dunia persilatan itu; sebuah dunia yang mengagumkan. Lalu sekarang ini, ketika hikayatnya disuguhkan dengan sofistifikasi teknik perfilman yang canggih, dunia persilatan yang kita saksikan menjadi semakin menarik. Selain komik yang lebih tradisional, film-film layar lebar telah mampu menampilkan dunia para pendekar ini dengan pesona yang sangat menawan, lengkap dengan segala macam jurus dan ilmu yang bahkan melampaui batas harapan si penggubah cerita yang asli.
Dengan sutradara sekaliber Tsui Hark, Zhang Yimou dan beberapa lainnya, misalnya [bahkan yang berbasis Korea], dunia persilatan tampil sangat ajaib dan menawan. Di antaranya, yang paling artistik di mata saya adalah Hero-nya Jet Li, dari buah tangan sutradara Zhang Yimou. Menonton film-film persilatan itu, bagi saya seakan dibawa pulang kepada kenangan lama, tentang seorang pendekar pedang di sebuah rumah kecil di kaki ngarai hijau yang sejuk, dengan pohon-pohon besar di belakangnya.
Yang pasti, kombinasi dunia persilatan dan perfilman telah mengangkat RRC ke tingkat dunia melaui legenda para pendekar kungfu. Kita tentu sangat berharap kiranya akan sampai juga kemampuan Indonesia mengangkat karya-karya Jan Mintaraga dan lainnya ke layar lebar dengan kualitas internasional yang setara, sebagai bentuk promosi karya anak bangsa.
Anda sudah menonton filmnya Danzel Washington "The Great Debaters"?
Baiklah, sedikit latar belakang. Kolom ulasan ringan ini ditulis di atas pesawat, ketika terbang dari Los Angeles ke Boston, Massachussetts, via Philadelpia. Kebetulan saya akan menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan MIT - Harvard dengan topik menarik yang terkait dengan sikap publik.
Kadang memang sesuatu terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tetapi mengandung ambiance yang pas.* Ketika terbang dalam perjalanan yang akan menghabiskan waktu 7 jam itu, film yang ditayangkan United Airlines adalah filmnya Danzel Washington, "The Great Debaters", yang dirilis Desember 2007. Duduk di seat tengah, diapit seorang wanita kulit hitam dan kulit putih, bayangkan setting situasinya bagi saya.
Saya memang terpukau dari awal sampai akhir menonton film ini, karena ceritanya yang menarik. Kisah yang berdasarkan true story itu berlatar waktu tahun 1939, ketika AS masih sangat tidak 'settled' dalam masalah ras. Tentu terkait dengan kulit hitam.
Film yang disutradarai sendiri oleh Denzel Washington dengan produser Oprah Winfrey ini memang berangkat dengan cerita tentang sebuah kampus kulit hitam di Texas, yakni Wiley College, dalam hal mana Danzel yang menjadi guru mengasuh para mahasiswa muda itu dalam berdebat. Mengingat lingkup waktunya masih pada masa-masa ketika wilayah Selatan AS masih sangat rasis, tentu pertarungan yang menjadi warna adalah pertarungan tentang hak-hak kulit hitam.
Dalam konteks keadilan hak ini, sudah pasti juga akan terkait dengan kemiskinan, pengangguran, segregasi, dikelasduakannya warga kulit berwarna. Ada rujukan pendek tentang ibu kulit hitam yang punya anak-anak busung lapar.
Digambarkan bahwa James Farmer Jr dengan ayahnya yang diperankan Forest Whitaker, mengalami tekanan ketidakadilan hanya karena warna kulit. Ceritanya, ketika pulang seusai sebuah acara, James sekeluarga pulang dengan sebuah mobil dan di jalan yang bersemak di pinggirannya itu tiba-tiba mobil menabrak sesuatu---seekor babi. Mati babi itu.
Ini situasi yang menimbulkan masalah, karena pemilik babi adalah peternak kulit putih, yang dengan garang datang mengancam. Anda tahu, di AS dulu karena pengaruh perbudakan, warga kulit hitam dipanggil "boy", sedangkan kulit putih oleh kulit hitam akan dipanggil dengan "tuan".
Dalam cerita itu, ayah James mengalah. Pastilah karena pertimbangan keamanan keluarga. Ia menawarkan penggantian dengan cek senilai $17.00 yang semula diperuntukkan untuk biaya kuliah anaknya. Nilai $17 di waktu itu sudah sangat tinggi tentunya, beberapa kali lipat dari harga seekor babi yang mati tertabrak. Tetapi, karena ancaman pistol, ayah James merelakannya.
Itu adalah momen "disobedient" bagi James yang tidak dapat menerima begitu saja perlakuan rasis dan tidak adil yang dialami keluarganya. Ia menolak; meskipun tetap harus taat pada kata-kata ayahnya. Persitiwa itu menempel sangat dalam di benak James.
Apa yang dialami James merupakan bukti bahwa pembentukan diri seseorang, secara psikologis, sering terjadi ketika peristiwa di waktu muda, bahkan saat kecil. Persepsi kontekstual dapat mewarnai pembentukan diri; kekerasan hati atau bahkan latar belakang mengapa seseorang di masa datang akan memilih atau berbuat A atau B. James menjadi 'articulate' dalam menggambarkan ketidakadilan ras; justru dengan menggunakan pengalaman keluarganya itu.
Dalam film ini, kelompok debat yang diasuh Danzel memang berkembang semakin handal. Dari satu sekolah ke sekolah lain, mereka memenangkan perdebatan yang diadakan. Setiap isu bisa diperdebatkan; dan diperdebatkan dari dua arah---mendukung atau menolak. Film ini tepat sekali menjadi contoh betapa sebuah argumen selalu dapat dipertahankan dari dua sisi. Apa pun permasalahnnya sering kali tergantung bagaimana keandalah kita memperdebatkannya.
Namun, dalam film ini, sekalipun argumen dapat selalu dilakukan, esensi yang lebih ditanamkan adalah hakikat perdebatan yang lebih tinggi. Ketika terkait dengan warna kulit, kisah perdebatan di sini malah menjadi bentuk gerakan mengangkat harkat warga kulit hitam, bagaimana mereka dapat dianggap dan dihargai setara---regardless of color.
Mr. Tolson adalah guru yang bercita-cita besar; ia jelas tipe 'doer' yang yakin akan dapat melakukan apa saja, asalkan kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Tim debat Wiley College menjadi juru bicara kulit hitam ketika akhirnya Harvard mengundang mereka untuk sesi debat yang disiarkan di seluruh AS melalui radio.
Harvard di Massachussetts memang berbeda. Paling tidak, konteks masyarakat di Utara AS memang lebih mampu bersimpati kepada perbedaan warna kulit. Perang Sipil di AS berlarut-larut justru terkait dengan perbudakan, ketika wilayah Utara menolak, sedangkan Selatan, terutama Texas, ingin mempertahankannya.
Alur cerita fim semakin menarik ketika ternyata isu perdebatan yang diangkat justru lebih netral: ketidakpatuhan sipil (civil disobedience). Bagi Harvard, isunya bukan lagi soal warna kulit, tetapi perdebatan tangguh antar tim yang kuat. Sebagai tim pemenang debat nasional secara berturut-turut, tim Harvard memang mendapatkan lawan yang kuat.
Elemen menarik lainnya terutama karena cerita yang dituturkan betul-betul menyangkut fakta sejarah: perselisihan karena ketidakadilan ras sebagai sisa-sisa dari era perbudakan. Lebih menarik lagi adalah ketika para aktor yang memainkannya begitu masuk, terutama di kalangan tokoh utamanya, sehingga soal figur mereka sebagai aktor di luar film tidak terlalu menjadi hirauan kita.
Danzel adalah Mr. Melvin Tolson; Withtaker ayahnya James. Namun, karena cerita yang mereka mainkan lebih besar (larger than life), mereka ternyata hanya menjadi wayang yang diperlukan untuk penuturan kisah itu sendiri. Tentu di dalamnya ada banyak drama yang menambah warna dan konteks bagi film ini. Ada latar belakang gerakan 'radikal' Tolson yang terlibat dengan aspirasi gerakan buruh; ada kisah cinta anak muda, patah hati; ada kerusuhan ras dan seterusnya.
Dari konteks materi pemberi bobot debat, film ini juga menyinggung gerakan damai 'satyagraha"-nya Gandhi di India. Dari film ini anda akan tahu bahwa Gandhi bukan hanya mendasarkan gerakan damainya dari kitab suci Hindu, tetapi pemikiran pasifis Henry David Thoreau, yang ternyata lulusan Harvard. Film ini juga menyebut-nyebut tentang lynching mob, atau jenis siksaan mematikan yang dilakukan kepada orang kulit hitam untuk menjadi mempertakut dan contoh bagi yang lain.
Texas memang dikenal lebih rasis dibandingkan beberapa negara bagian lain di AS. Betul bahwa pembuatan film yang dibintangi dua pemenang Oscar ini, Denzel dan Forest Whitaker, sarat dengan beban perjuangan warna kulit. Ia mungkin tidak akan menjadi film, sekiranya bukan Oprah yang menjadi produser. Yang pasti, banyak pelajaran di dalamnya. Bagi rakyat AS, tentang sejarah hitam bangsanya dalam hal rasisme. Bagi kita, bahwa perjuangan menolak ketidakadilan perlu dilakukan di semua lini. Apa pun mediumnya, meskipun dalam hal debat, esensinya bahwa hak-hak asasi manusia tidak mengenal warna.
Di udara antara Los Angeles - Boston, 30 Mei 2008
*) Seperti saat makan di restoran Cina dan dapat fortune cookie yang kata-katanya mengena sekali.
Bagi yang berminat, ayo ikut serta dalam FFPI 2008 di Los Angeles. Submisi film sampai batas waktu 31 Juli 2008.
Baru saja Panitia FFPI 2008 mengumumkan di websitenya bahwa jadwal submisi film diperpanjang menjadi 10 Oktober 2008. Masih ada kesempatan bagi yang berminat.........
___________________________
Melihat reaksi dan respons yang sangat positif dari pelaksanaan Festival Film Pendek Amatir 2007 yang lalu, KJRI-Los Angeles bekerjasama dengan komunitas film Indonesia di Los Angeles (INAFILMS) akan mengadakan Festival Film Pendek Indonesia 2008.
Festival ke-2 ini terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia di mana pun berada.
Selain kategori film pendek, untuk Festival tahun ini juga diperkenalkan kategori Film Selular, yaitu film pendek yang diproduksi atau dibuat dengan menggunakan 'camera phone'.
Pendaftaran film untuk disertakan dalam Festival dibuka sejak Maret 2008 dan akan ditutup dengan batas akhir 31 Juli 2008.
Untuk kategori film pendek, penghargaan yang akan diberikan adalah Best Actor, Best Actress, Best Director, Best Editing, Best Cinematography dan Best Picture. Sementara untuk kategori Film Selular, penghargaan yang akan diberikan adalah Audience's Favorite I & II.
Semua pemenang akan mendapat piala dan piagam penghargaan dari KJRI Los Angeles. Khusus pemenang Best Picture akan mendapat hadiah tambahan. Selain itu, film pemenang Best Picture juga akan diputar di acara perayaan hari kemerdekaan RI ke-63 di Los Angeles dan beberapa kantor perwakilan RI di Amerika.
Festival film ini diharapkan menjadi ajang kompetisi kreativitas para sineas dan pelajar perfilman Indonesia khususnya di Amerika dan Indonesia.
Formulir pendaftaran dalam bentuk PDF bisa diunduh dari inafilms.org.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Panitia melalui email di info@inafilms.org, pen@kjri-la.net. _________________________________
Sekedar info, di Los Angeles yang notabene pusat perfilman AS dan dunia, para aspiran film Indonesia, baik mahasiswa sampai para pekerja film, termasuk sekedar penggemar film, bergabung dalam suatu komunitas film yang disebut Indonesian American Film Society (INAFILMS). Berbasiskan Los Angeles, komunitas ini diharapkan akan mampu menyatukan semua aspiran perfilman kita di berbagai wilayah AS.
Memang masih sangat hijau, tetapi semangatnya kuat. Dengan difasilitasi KJRI Los Angeles, Komunitas ini diharapkan akan semakin berkembang dengan tujuan membangun jaringan perfilman Indonesia dalam kaitannya dengan Hollywood.
Dapat digarisbawahi bahwa di Los Angeles juga banyak mahasiswa kita yang mengambil bidang ilmu perfilman. Sejumlah sutradara nasional sebelumnya juga menuntut ilmu di kampus-kampus perfilman di kota ini. Tentu sebagian lainnya di San Fransisco, New York dan sebagainya. Namun basis yang terkuat, mengingat Hollywood, adalah di Los Angeles.
Bersama KJRI Los Angeles, komunitas film kita itu juga akan meluncurkan Festival Film Pendek 2008, yang rencananya akan diumumkan per awal Maret ini. Festival ini merupakan kesinambungan dari Festival Film Pendek Amatir Indonesia (FFPAI) 2007 yang lalu.
Mm, info lain menyusul. Tetapi bagi yang berminat, silahkan meninggalkan jejak di inafilms.org; berikan masukan dan tanggapan. Ide dasarnya tidak lain, bagaimana kita semua ikut serta menggairahkan perfilman Indonesia, termasuk ke tingkat internasional.
Film berdurasi 107 menit yang diinspirasikan kisah nyata ini dijamin akan menyentuh hati dan perasaan anda sampai dalam. Kalau anda termasuk yang lembut hati dan penghiba, air mata pasti akan bercucuran begitu saja. Betapa hidup penuh dengan duka dan luka.
Adalah Xiao Hua, gadis cilik berusia 7 tahun yang telah ditinggal mati kedua orang tua dan neneknya, sebatang kara di dunia yang dilingkari kemiskinan ini. Ia lari dari kampungnya, karena keluarga yang menampung bertangan ringan dan tidak memberinya makan.
Kisah pun dimulai ketika Hua ditemukan pingsan kelaparan di kampung lain. Warga kampung umumnya tidak mau menampungnya. Hidup memang sudah sulit; mencari yang lapang hati semakin sulit pula.
Hanya seorang kakek, ayahnya Baozhu, yang dengan susah payah bersedia menampung Hua. Anak si Kakek, Baozhu, apalagi menantu perempuannya, tidak mau menerima. Pasangan ini memang sedang berjuang dengan berbagai cara untuk mendapatkan anak yang tak kunjung diberi. Adanya Hua, menurut sang menantu, akan membawa sial.
Namun, Xiao Hua, sang bunga kecil, adalah anak yang menawan. Ia rajin, sopan, sabar, sangat perhatian. Ketika ia memelas meminta sang kakek menampungya, Hua mengiba agar ia tidak dipulangkan, ia siap membantu, masak, mencuci, makan pun cukup diberi satu kali sehari, katanya.
Ternyata seiring waktu, kehadiran Hua adalah berkah yang baik, karena kepribadian dan kecerdasannya yang menawan. Setiap kali ia mengalami perlakuan aniaya dari 'tante' menantu sang Kakek, ia hanya sabar, bahkan tidak pernah berkata buruk atau dendam kepada. sebaliknya, Hua bahkan selalu berusaha menolong, melakukan apa saja agar merebut hati sang tante. Ia bahkan memburu ratusan belalang setiap pulang sekolah, yang konon dapat menjadi obat penyubur wanita agar hamil.
Yang pasti, ini kisah yang mengharukan. Kata orang, permata itu sekali pun ditaruh dalam lumpur, tetap akan mengkilat. Xiao Hua adalah permata yang luar biasa. Kehadirannya yang tahan cobaan ternyata membawa berkah kepada semua orang, bahkan mengangkat nama desa.
Anda perlu melihat sendiri film yang dirilis tahun 2002 ini, agar terasa dalam. Akan bermanfaat untuk melatih hati, juga empati. Sutradara Wulan Tana pun sangat lihai menyuguhkan cerita dalam warna kehidupan miskin pedesaan di RRC. Film ini juga mendapatkan banyak penghargaan tingkat nasional di RRC, termasuk aktor cilik terbaik.
Sudah lihat film ini---Freedom Writers? Kalau belum, tontonlah. Anda akan belajar sesuatu yang penting.
Saya? Saya bukan saja telah menonton filmnya, tapi juga beli dan baca bukunya, mengakses website-nya, bahkan mendaftar dalam mailing-list agar diinfokan jika ada sesuatu yang baru.
"That much, ha?"
Ya! Sebab, saya terpesona. Bukan karena film itu dimainkan oleh Hillary Swank yang pemenang Oscar; atau hadirnya Peter Dempsey yang lagi naik daun sebagai peran pembantu.
Jujur saja, sebelum betul-betul maklum tentang Freedom Writers itu, bahkan di bagian awal film ketika yang dipertontonkan adalah latarbelakang anak sekolah menengah dengan kehidupan a la "gangsta" berwarna gelap, saya pun hampir jadi jengah.
Memang, saya biasanya agak enggan menonton ekspose kekerasan yang tidak perlu, apalagi kalau diorientasikan hanya pada ekses kehidupan modern penuh narkoba dan perang antar gang.
Namun, ternyata, film yang ini berbeda. Ia bukan lagi soal perang antar gang atau kacau balaunya remang-remang perkotaan. Bukan lagi soal kekerasan rasial, narkoba, imigran gelap dan lainnya. Ini soal semangat; bahwa ada masa depan bagi semua orang, apalagi bagi anak remaja di bangku sekolah menengah. Hidup tidak selalu berjalan linier; bahwa dari lingkungan kumuh atau pojok perkotaan tak lagi ada harapan perbaikan.
Melalui film ini, kita dapat melihat perjuangan Erin Gruwell, sang guru Mrs. G, yang pantang menyerah dan punya rasa hati yang kuat. Ia adalah pembawa harapan dan berani berjuang keras, tanpa pamrih, agar harapan itu menjadi kenyataan. Bahwa ini bukan sekedar film, tetapi kenyataan yang sesungguhnya, maka nilainya menjadi lebih.
Freedom Writers juga menempatkan menulis sebagai terapi untuk menjadi pendorong semangat perubahan. Belajar dari Anne Frank, katanya. Penderitaan dan luka ada di mana-mana; namun demikian pun harapan, juga ada di mana-mana.
Kisah dari Long Beach, yang melibatkan prasangka dan kekerasan antar ras, membawa pelajaran yang tidak biasa. Paling kurang bagi Amerika.
Erin pun membangun yayasan dan juga menulis buku manual agar pengalaman kelas bahasa Inggerisnya itu dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain. Inspirasi bagi perubahan dan kebaikan.
Di LA dan seluruh AS lagi diselenggarakan kompetisi film pendek amatir, ajang bagi penggemar bikin film amatir di era youtube yang lagi marak ini....
Kalau anda mukim di AS dan penggemar bikin film, ayo ikutan saja...batas akhir 21 Juli..... Juga bisa bantu ngomporin teman-teman lain yang berminat.....
Update: batas akhir diperpanjang Panitia FFPAI 2007 menjadi tanggal 10 Agustus 2007.
* Mohon maaf bagi yang sambungan internetnya agak lambat.
Wess Ball membuat fim pendek ini, yang terasa mengesankan, dan menyenangkn anak-anak. Sebuah "work in progress" yang bersahabat, dengan ending yang sangat baik. Bahwa masing-masing harus menjadi diri sendiri, jangan terlalu berangan-angan tinggi. Hargailah apa yang dipunya, maka hari-hari akan lebih bermakna. Memang nilai yang perlu ditanamkan kepada anak-anak kita.
Ada dua film bergenre komedi yang ingin saya singgung. Karena penasaran, akhirnya saya tonton juga filmnya Meryl Streep itu, maklum penggemar artis hebat ini: The Devil Wears Prada (2006). Dengan genre komedi, film yang dibintangi Anne Hathaway mengisahkan suka duka sebagai sekretaris baru Miranda Priestley (Streep) yang memimpin majalah mode, Runaway berbasis New York yang dianggap sebagai penentu gelagat dan gemerlap dunia pakaian sentuhan para desainer tenar. Priestley adalah bos yang berkarakter sangat menuntut, tipe ‘difficult people’ yang seluruh orang lain di sekitarnya dianggap tidak kompeten.
Anne Hathaway sebagai Andy Sach, yang semula senang mempercandakan dunia glamor yang bertuhankan pakaian itu, tertantang untuk mempertahankan pekerjaannya dan memenangkan hati Miranda. Ada usaha keras di situ, bahkan di luar konteks pekerjaan yang wajar; ada bantuan editor senior lain yang diperankan Stanley Tucci, sehingga akhirnya Andy berhasil. Ia yang di awal dianggap tidak penting, seorang ‘emily’, berubah menjadi sekretaris unggulan; ia yang semula tak kenal mode, menjadi penggemar produk bermerek. Ini soal prada.
Sebetulnya tidak ada yang istimewa dalam film ini, kecuali karena Meryl Streep bermain dengan sangat meyakinkan. Kisah kerja keras, bos yang sinis, dunia mode, hubungan dan persahabatan yang dikorbankan demi karier, selingkuh ringan---tak banyak yang istimewa. Plot yang manis, memang, tetapi biasa saja, tanpa kejutan-kejutan berarti.
Agak berbeda dengan Thank Your for Smoking (bukan 'for not smoking') yang diperankan Aaron Eckhart sebagai Nick Naylor. Film bergenre komedi produksi tahun 2005 ini cukup menantang karena ia membentangkan dengan cukup jelimat pertarungan keras antara lobi pro- dan anti-rokok. Berbeda dengan arus masyarakat yang lagi mengemuka, film ini justru mengangkat sudut pandang lobi rokok, yang semakin hari mengalami tekanan yang semakin kuat. Bersama-sama dengan rokok, lobi pro-senjata dan –alkohol juga berada pada posisi yang terpojok dan berjuang keras: lobi produk-produk yang ditinggalkan konsumennya.
Banyak hal yang menarik dalam film ini, bukan saja karena Eckhart bermain manis sebagai pelobi yang lihai, walaupun mudah terperosok rayuan reporter cantik (Kate Holmes) sehingga menjadi bumerang. Sebagai pelobi tokoh Nick sangat andal menggunakan argumen: you are never wrong if you argue it correctly. Pada dasarnya semua hal memiliki titik lemah, apa pun itu, termasuk argumen lobi anti-rokok yang ditokohi Senator Ortolan Finnistirre asal Vermont, yang diperankan William H. Macy. Atas tudingan yang gencar tentang bahaya rokok sebagai ‘pembunuh massal’, Nick Naylor justru mengargumenkan bahaya pesawat terbang dan kendaraan bermotor, bahkan sedar asal Vermont yang mengandung kolestrol, yang justru telah membunuh lebih banyak orang.
Berbeda dengan The Devil yang hanya bertumpu pada Streep, mungkin juga Tucci, film Thank You for Smoking dijejali banyak nama tenar, mulai dari Robert Duvall, Macy, Rob Lowe, Holmes, J.K. Simmons, Sam Elliot dan lainnya. Dari segi isi pun, film lobi rokok ini penuh substansi yang tajam, intrik dan politik, anak dan pernikahan yang pecah, contoh-contoh kasus negosiasi, plot comeback, dan sebagainya. Jika anda seorang negotiator, pelobi atau diplomat, film ini bernilai terutama dari sudut pandang bahwa everything is an argument, yang penting selihai apa anda memainkannya. The Devil mungkin menghibur dan membuat anda mengangguk-angguk karena seakan pernah mengalami atau menghadapi bos yang sulit, namun semua itu akan cepat berlalu. Film lobi rokok garapan sutradara Jason Reitman ini mungkin akan lebih diingat, bukan karena sekedar mengingatkan pengalaman pribadi, tetapi justru karena kita benar-benar belajar sesuatu.
Kendati demikian, yang sama dari kedua film komedi ini saya kira adalah hipokrisi Hollywood itu; sikap paradoksal yang pada akhirnya tunduk pada perhitungan bisnis dan pasar terbesarnya. The Devil, meskipun memamerkan segala keglamoran industri mode, tetap ditutup dengan kembalinya kesadaran Andy bahwa semua itu palsu. Ia kembali ke kekasihnya yang lama, meskipun sempat sekali berselingkuh. Pesan moral yang superfisial memang, namun pesan komersilnya kuat karena bagaimanapun penonton terbesar tetap saja masyarakat kebanyakan yang tidak kuat membiayai gaya hidup penuh mode secara terus-menerus. Mereka yang perlu dimenangkan, meskipun orang-orang kaya yang keranjingan mode tetap saja unggul karena kisahnya telah dipaparkan. Tentu di mata mereka yang kaya, penolakan terhadap mode tidak lain hanya karena yang menolak tidak punya uang.
Paradoks Hollywood dalam Thank You for Smoking ditonjolkan pada akhir cerita dengan membelotnya Nick sebagai pelobi rokok. Agar lebih dramatis, disebutkan pula bahwa kebetulan selanjutnya penolakan terhadap rokok semakin kuat dan industri rokok melemah. Di sini Hollywood kembali memenangkan pasar mayoritas penontonnya yang sekarang trendnya menolak rokok. Padahal, seperti disinggung dalam dialognya, film-film yang diproduksi di masa lalu justeru selalu menonjolkan para jagoan yang merokok, kisah asmara romantis yang dihiasi rokok, pokoknya format ala Malboro Man. Bahkan disebutkan bahwa sebagian besar aktor Hollywood sebetulnya perokok, meskipun di depan layar semua itu tidak ditampilkan. Julia Robert, pemeran Pretty Woman, misalnya, disebut sebagai penggemar rokok Virgina Slim, meskipun itu tentu di saat sedang off-screen. Bayangkan kalau program para lobi anti-rokok di bawah Senator Finistirre, seperti dalam film itu, berhasil menggenjot kampanyenya lebih jauh dengan melakukan penyuntingan digital semua film-film terdahulu yang pernah menampilkan rokok, katanya bukan sebagai upaya menipu sejarah, tetapi justeru ‘improving history’.
Jadi, bagi saya, The Devil Wears Prada hanya film 2 bintang, sedangkan Thank Your for Smoking dapat 4. Tidak ada yang lima.
‘Obituari buat Ibu Sendawan dan yang senasib dengannya, penderita kanker ganas yang meninggal tanpa adanya kesempatan’
Kolom: Agusti Anwar
SUGUHAN film dan serial televisi yang berhubungan dengan pahit-getir penanganan pasien di rumah sakit selalu menarik untuk ditonton. Sebutlah sejak dari serial Dr. Doogie Howser, dokter muda jenius yang rajin menulis buku harian itu, sampai serial yang lebih belakangan seperti GeneralHospital,E.R., Grey’s Anatomy, House, bahkan juga Scrubs. Saya senang Scrubs karena suka-duka penanganan pasien ditampilkan dengan lebih komedial dari sisi para dokter muda yang baru mendapatkan gelar kedokteran dan melewati proses magangnya.
Yang paling menarik mungkin justru serial House yang diperankankan oleh Hugh Laurel, seorang dokter pincang yang kadang sarkastik namun sangat pintar. Ia tipe dokter pahlawan yang menangani kasus-kasus buangan dokter lain karena mereka tidak tahu harus bagaimana menanganinya. House tidak akan pernah diam sebelum diagnosanya berhasil memecahkan permasalahan.
Faktanya, rumah sakit memang menampung titik rawan kelangsungan hidup pasien. Ajal sudah pasti merupakan domain Tuhan. Namun dimensi usaha untuk bertahan hidup dan, bahkan, dapat hidup sehat bagi seorang pasien banyak terkait dengan tangan-tangan dingin para dokter itu. Dokter yang cerdas dan berdedikasi tinggi adalah harapan banyak orang, karena karakter itu akan menjadi jaminan peluang diagnosa penyakit secara lebih tepat.
Yang menarik dalam dunia film adalah bahwa kisahnya lebih sebagai dramatisasi kehidupan sehari-hari, yang sebelum disuguhkan telah melalui proses scripting, akting, penyutradaraan, bahkan editing. Ia tampil dalam wajah yang lebih baik, seperti yang diharapkan. Dalam drama rumah sakit itu, benar tetap ada yang terluka, ada korban, ada pasien yang meninggal tak terselamatkan, tetapi semua lebih sebagai bentuk selektif dari refleksi kehidupan yang sesungguhnya. Yang lebih dikenang adalah proses heroik menyelematkan pasien, saving life, seakan tangan ajaib para dokter mempunyai daya magis yang menyembuhkan.
Itulah yang membedakan kehidupan nyata dengan dunia imaginer. Dalam dunia yang kita jalani ini, jumlah pasien lebih banyak daripada yang mampu ditangani para dokter dan rumah sakit. Lebih parah lagi, karena korelasi antara pasien, dokter dan rumah sakit terpaut dengan skema ekonomi, bisnis dan profit, maka seleksi siapa yang berhak sehat dan siapa yang dibiarkan sakit menjadi lebih kompleks. Teori survival of the fittest-nya Charles Darwin diterjemahkan menjadi situasi keuangan pasien, yang mampu dan yang tidak. Hanya yang punya uang yang selamat (atau mendapat hak untuk diselamatkan), sedangkan yang tidak akan tersapu oleh seleksi alam; hubungan asimetris antara the have dan the have not.
Dalam dunia Holywood, krisis hidup-mati tidak dikekang oleh kondisi keuangan pasien. Sebabnya bukan saja realitas kehidupan di AS lebih sejahtera bagi mayoritas warga, negara pun memiliki kemampuan memberikan jaminan sosial yang lebih baik, sistem asuransi kesehatan yang lebih menyeluruh (integrated) dan seterusnya. Lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang menampung surplus altruisme publik melalui donasi filantropis, menyediakan peluang yang lebih menjamin bagi diperolehnya kesempatan terbaik bagi si sakit.
Perbedaan jelas mencolok di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kemiskinan terlalu dominan, sehingga peluang rakyat jelata yang sakit untuk menjadi sehat berhadapan dengan tembok keuangan yang kejam. Itulah sebabnya sekarang semakin biasa didengar ekspresi pahit, bila anda miskin janganlah sakit. Sakit adalah barang mewah, karena berobat ke dokter dan menebus resep memerlukan dana yang mahal. Bayangkan apabila penyakit yang diderita lebih kompleks atau memerlukan perawatan terus menerus. Seorang pasien kanker atau yang memerlukan cuci darah yang berkesinambungan akan dengan sangat cepat mengeringkan seluruh punding-pundi keuangan keluarga.
Tidak jarang ada tidaknya uang menjadi pembeda sudut pandang kemanusiaan kita. Selain satu dua dokter yang berkomitmen menolong yang sakit, ada lebih banyak yang hanya ingin menjadi kaya dan hidup enak. Ada banyak rumah sakit yang sangat terpaku pada aspek profit seorang pasien, sehingga pasien miskin yang tidak berkemampuan membayar berada di urutan terakhir daftar prioritas atau sama sekali tidak tercatat di dalamnya. Cukup sering didengar kisah pasien yang masuk unit gawat darurat, berdarah-darah, namun tidak segera ditangani karena tidak ada jaminan. Karena faktor uang, fungsi dokter dan rumah sakit yang semestinya bermottokan ‘saving life’ dapat berubah serta-merta menjadi saving profit. Pesan sederhananya: pasien tumor ganas yang miskin, berdoalah lebih sering, karena berdoa itu gratis.
Krisis hidup-mati pasien yang sekarat memang lebih enak ditonton dalam produk layar lebar atau televisi a la Hollywood, karena peluang pasien sangat lebih baik. Dokter-dokternya pun manusiawi dan berdedikasi untuk menolong. Rumah sakit adalah oase yang memberi harapan bagi pasien. Variabel penyakit dan kesembuhan lebih bersifat linier. Tidak disekat oleh tembok uang, yang mengerdilkan keperdulian, kemanusiaan dan, bahkan, sebuah kesempatan.
Jakarta, 1 Agustus 2006
Info lebih lanjut tentang penderitaan rakyat yang memerlukan pertolongan mohon rujuk ke Mari Peduli serta berbagai situs/blog yang relevan. Seringkali uluran tangan yang sekecil apa pun menjadi pembeda nasib mereka yang memerlukan pertolongan.
Foto Alm Ibu Sendawan (dari Mari Perduli) yang menderita tumor ganas di matanya.
Apakah pilihan anda membaca novelnya atau menonton filmnya? Your choice!
Ini bukan dilema klasik yang usianya telah setua bumi. Dalam tenggang sejarah peradaban manusia, pertanyaan seperti ini hanyalah masalah kemaren sore yang seumur jagung. Seawal-awalnya pun, persoalan menonton baru muncul sejak abad 20, ketika industri ‘gambar bergerak’ (motion pictures) yang berbasis celluloid mulai dirambah. Kendati demikian, ketika teknologi cine-camera masih sederhana, apakah tanpa suara, masih dengan gerak yang patah-patah, sampai yang tanpa warna, tantangan menonton belum begitu mengancam.
Slapstick klasik Charlie Chaplin atau The Three Stooges akan tetap menimbulkan nostalgia yang menyenangkan. Beberapa karya gala klasik hitam putih di tahun 1950 atau 1960an seperti The Ten Commandments dan Spartacus, atau mungkin Gone With the Wind, tetap saja bagus. Namun, semua suguhan layar lebar klasik itu praktis belum sedemikian memukaunya.
Revolusi menonton barangkali baru terasa kuat setelah era berwarna lewat Technicolor dan suskesnya reka efek (special effects) yang mengagumkan sejak Star Wars-nya George Lucas di akhir 1970an. Semakin ke depan, batas-batas visualisasi imaginasi pun terus-menerus menipis.
Sekarang ini, dunia cinemathography telah memiliki perangkat teknik, tips and tricks, yang seakan sudah tak terhingga. Hollywood merupakan kota suci bagi industri perfilman dunia, tempat di mana bersarangnya raksasa-raksasa seperti MGM, Warner Bros, Fox, Columbia, Universal Studio dan seterusnya yang telah lama malang melintang. Berbagai studio lain bermunculan terus dan saling mengungguli.
Dengan segenap kelengkapan yang ada, menonton sekarang adalah hal yang luar biasa. Imaginasi yang ditawarkan sudah sangat kompleks dan mempunyai daya pukau yang sangat believable. Digitalisasi dunia layar lebar sangat memanjakan kreativitas imajinasi yang hampir tanpa batas. Sekarang, apa pun konstruksi yang dihayalkan si pengarang dapat dituangkan dengan sangat nyata ke hadapan kita.
Bayangkan perbedaan antara King Kong buatan 1930an dengan retake baru-baru ini. Berbagai karya besar lain muncul dan mencuat karena keunggulan reka efek seperti Jumanji, Jurassic Park, Godzilla dan lainnya. Peperangan dan pertempuran pun terasa sangat riel seperti digambarkan dalam Braveheart, the Gladiator, Alexander, Troy terus sampai Kingdom of Heaven dan yang akan muncul lebih belakangan. Bahkan dunia alien yang lucu a la Men in Black-nya Will Smith, pesona sorgawinya What Dreams May Come Robin William sampai kehidupan mutan para X-Men milik Marvel.
Siapakah yang tidak terkesima menyaksikan trilogi Lord of the Ring. Meskipun J.R. Tolkien tidak pernah bermaksud memisahkannya sebagai cerita tiga rangkai, namun karena memang panjang, ini adalah bentuk trilogi yang manis. Membaca novel lengkap karya monumental Tolkien ini sudah pasti sangat menyita waktu, karena sangat tebal. Bahkan, ketika telah diangkat pun ke layar lebar, durasi filmnya pun tergolong panjang-panjang.
Untunglah filmnya baru dibuat sekarang ini, yang berkat teknik reka efek yang sangat handal plus permainan aktor dan arahan sutradara yang sangat bagus, penyuguhan Lord of the Ring secara visual pun menjadi sangat spektakuler. Dapat dipastikan bahwa pilihan membaca atau menonton filmnya, apalagi sekarang ketika dua versi itu telah tersedia dengan lengkap, menjadi pilihan yang kurang fair. Jangan salahkan kalau banyak yang sudah sangat puas hanya dengan menonton saja.
Benar bahwa sejumlah film didasarkan langsung pada skenario dan keterampilan sutradara. Namun, yang didasarkan pada karya novel, saya kira, tetap tak kalah banyak. Sekarang bahkan sudah paket yang menjadi trend dan impian para pengarang bahwa sebuah karya sukses akan dibeli dan diproduksi menjadi film. Karya-karya John Grisham sejak The Firm, Pelican Brief dan seterusnya, adalah contoh novel berbasis hukum yang dikenal bermutu bagus, baik untuk dibaca maupun ditonton. Stephen King pun tidak ketinggalan dalam urusan book-to-movie ini. Kalangan bisnis entertainment bahkan lebih lihai lagi, karena semua aspek asesoris terkait dijadikan uang, sampai ke mainan dan computer game-nya.
Sebetulnya pilihan mana yang lebih berkualitas antara membaca novel atau menonton filmnya? Para pembaca The Da Vinci Code tampaknya banyak yang tidak puas dengan versi layar lebarnya, meskipun itu Tom Hank yang menjadi aktor unggulannya. Saya sebagai pembaca yang tergolong kurang puas dengan tempo ending novelnya, sebagai penonton lebih merasa hambar melihat filmnya.
Barangkali memang membaca novel sebelum menonton filmnya akan selalu membuat kita berpenilaian tidak adil, terutama kepada filmnya. Soalnya, ketika kita membaca sebuah karya, bukan saja ekspresi sifat (adjective) dan perasaan dari pengarang lebih mengalir ke urat hati kita, tetapi juga karena masing-masing kita berubah peran menjadi sutradara film imajinasi yang sifatnya pribadi. Sebagai individu yang masing-masing adalah unik, pengalaman yang berlainan membuat kita memiliki pilihan imaji yang beragam.
Meskipun novel yang kita baca sama, kualitas kedalaman menikmatinya dapat sangat berlainan. Saya kira, novel-novel yang syarat perasaan akan cenderung lebih buruk dalam bentuk filmnya, karena kita para pembaca tidak mungkin melepaskan persepsi yang subjektif. Bagaimana pun, sebuah film dapat dimaknai sebagai tindakan pemaksaan, kalau bukan pengkolonian, sebuah imajinasi yang seragam oleh seorang sutradara. Itu pulalah sebabnya maka menonton cenderung menawarkan efek pendangkalan imajinasi.
Malangnya, kita selalu menjadi makhluk yang penuh keterbatasan, bahkan dalam hal waktu. Keterbatasan yang ada sering membuat kita bertindak praktis. Walaupun sebagai pembaca yang fanatik, seringkali dilema membaca atau menonton harus diselesaikan dengan pilihan yang lebih pragmatis sesuai situasi dan kondisi yang ada. Pada akhirnya, saya kira bagi yang berpeluang, maka membacalah karena nilainya berbeda. Namun kalau tidak, menontonlah, agar mendapat manfaat. Toh kedua-duanya merupakan finesse dari peradaban manusia.
Masyarakat kelas atas (high class society), siapakah mereka itu? Termasukkah anda di dalamnya? Sekiranya ya, apakah anda berpuas hati menjadi bagian dari kelompok masyarakat ini, atau anda punya reservasi?
Yang pasti, anda tentu lebih tahu. Namun, adalah seorang Nia Dinata, sutradara Arisan! versi layar lebar yang sekarang telah menjadi serial sinteron. Seperti dilaporkan Tempo edisi 13-18 Juni 2006, di bawah rubrik Televisi, disebutkan bahwa gist dari film Arisan!The Series sesuai patokan ANTV yang disyaratkan Nia, bercerita tentang problematika homoseksualitas Sakti (Tora Sudiro) dan Nino (Surya Saputra) sebagai alur cerita utama, selain kisah kaum borjuis Jakarta yang cenderung pamer kekayaan, hipokrit dan penuh intrik. "Ini kisah hidup high society", kata Nia.
Saya tidak tertarik membahas tentang lika-liku versi Arisan! tersebut, melainkan lebih mengenai bagaimana kelas atas itu dipersepsikan. Ia menggugah risau karena, meminjam kacamata Nia Dinata, ternyata begitulah kelas atas didefinisikan dan itu dituangkan ke dalam tontotan dengan target pemirsa televisi para remaja usia 15 tahun ke atas yang memang masih dipenuhi mimpi muluk sembari sibuk mencari filosofi diri. This is kind of handy, don’t you think?
Sejak kapan pun memang mereka-mereka yang dikelompokkan sebagai kelas atas adalah selalu mereka-mereka yang secara ekonomi berpendapatan tinggi. Porsi persentase lapisan masyarakat kelas ini pun biasanya tidak terlampau besar dan berada pada pucuk piramida sosial. Ia adalah kalangan elit, yang sampai tingkat tertentu bersifat eksklusif. Ini soal gaya hidup (life style) .
Pembagian atau stratifikasi kelas memang domain sosiologi. Marxisme berjuang untuk menghancurkan ketimpangan kelas, karena menentang kalangan borjuis yang eksploitatif. Namun, realitasnya, komunisme gagal dan kalau pun ada negara komunis yang bertahan, misalnya RRC, mereka terpaksa melakukan peninjauan total konsep teorinya.1 Di negara kapitalis, menjadi kaya adalah cita-cita kebanyakan orang, karena seluruh kenikmatan diukur dan direpresentasikan secara maksimum oleh kepemilikan harta dan kekuatan daya beli.
Walau pun selalu ada kasus pengecualian, untuk menjadi kaya itu tidak mudah; seringkali dipenuhi berbagai pilihan penuh intrik, dilengkapi kelicikan dan tipu daya, satu atau lain cara. Untuk bertahan terus kaya, dapat lebih sulit lagi, sehingga menuntut intrik lanjutan, kelicikan dan tipu-tipu baru. Bad things beget more bad things. Sudah menjadi semacam aksioma publik bahwa bertahan bersih dan jujur dan sekaligus menjadi kaya merupakan dua faktor yang berlawanan. Kalau toh bisa, pasti pengecualian.
Ironisnya, berada atau termasuk dalam kelompok kelas atas di negara berkembang seperti Indonesia adalah juga impian yang indah. Impian itu---yang diwujudkan melalui gaya hidup yang mudah, bebas dan mewah---malah menjadi lebih indah di mata lapisan masyarakat kelas menengah dan bawah. Semakin rendah tingkatan kita pada piramida sosial, semakin indah rasanya kelas di atasnya. Mereka yang tergolong kelas menengah pun, dengan berbagai cara, seringkali terjebak hipnotis untuk dicitrakan sebagai kalangan kelas atas, walaupun sebetulnya bersifat semu (pseudo high-class).
Lebih dramatis lagi, secara sadar atau tidak parahnya tingkat korupsi atau berbagai kecurangan finansial di negeri ini, baik di kalangan swasta maupun pemerintahan, bersambungan langsung dengan ambisi untuk berada pada, atau bertahan di, kelas atas. Atau, paling kurang, kelas orang-orang yang punya (the have). Kepemilikan materi pun telah menjadi ideal yang perlu dicapai dengan cara apa pun.
Lalu, apa hubungan Arisan! Nia Dinata dengan semua ini? Jawabannya adalah simplifikasi karakterisasi kelas atas yang ditawarkannya. Benar bahwa menjadi orang kaya (bahkan tersangat kaya sekali pun) dengan cara jujur dan bersih sekaligus bertahan menjadi makhluk yang takut kepada Tuhannya tetap dapat dilakukan. Kata ustadz yang dulu kondang dan sekarang sibuk berpartai, K.H. Zainuddin M.Z., itulah fenomena “hidup di dunia kaya raya, di akhirat masuk sorga”. Sayangnya, ini fenomena yang langka. Nia Dinata lebih realistis, karena yang lazim adalah bahwa kelas atas itu penuh dengan intrik, kemunafikan, snobisme.
Untuk lengkapnya, tentunya gaya hidup kelas atas yang mudah dan mewah itu lazimnya mencakup dekadensi lainnya, apakah kebebasan seksual dan hedonisme, barangkali juga narkoba, penyepelean agama, pengejaran ‘sorga-sorga’ dunia. Mm, tentu saja untuk kepentingan setting yang lengkap, pesan ideal mengenai kebaikan akan disampaikan sebagai penyimpul. Kurang lebih akan sama seperti dalam setting cerita horor, yang menampilkan figur ustadz yang membaca ayat suci setelah satu jam setengah acara klenik yang penuh sirik dan setan.
Yang lebih unik, tentu saja, tema lansiranya adalah homoseksualitas itu, yang diperankan dengan bangga oleh aktor yang dalam kehidupan nyata memilih heteroseksual. So, what’s the catch, then? Ya, tentunya mengikuti trend di Amerika lewat serial komedi situasi Will and Grace, namun dengan versi serta settingIndonesia yang sedikit berbeda. Will Truman adalah seorang gay yang juga diperankan oleh aktor Eric McCormac yang punya anak isteri. Dengan demikian, sempurnalah sudah dekadensi itu dipasarkan kepada remaja kita, bahkan lengkap dengan sebuah trend baru melalui ketokohan sebuah pasangan gay. Pesannya, kalau anda tergolong kelas atas anda harus dekaden, lalu carilah pasangan sejenis agar tidak ketinggalan zaman.
Selamat atas komitmen dan kampanye anda-anda yang tulus demi untuk lebih menjerumuskan generasi muda kita ke dalam dekadensi ini!
Jakarta, 18/25 Juni 2006
1) Untuk RRC sekarang ini, sejak diktum “menjadi kaya itu mulia”-nya Deng Xiapoing dan San Ge Daibiao-nya Jiang Zemin belakangan ini, kalangan borjuis pun mulai diakomodir dalam kancah politik karena perannya dinilai penting bagi proses pembangunan.