Anwar's posts with tag: identitas

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
EventUpacara Bendera 17 AgustusAug 11, '08 10:48 PM
for everyone
Start:     Aug 17, '08 09:00a
Location:     3457 Wilshire Blvd, Los Angeles, CA 90010 (USA)
Upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan di mana-mana, bahkan di luar negeri. Di Los Angeles, Upacara ini dilaksanakan di halaman KJRI Los Angeles.

Semua hadirin diharapkan sudah datang pada pukul 09.00 pagi. Karena jatuh di hari Minggu, urusan parkir lebih mudah, bisa di sepanjang jalan di Mariposa, lapangan parkir KJRI (Mariposa - 6th St), di belakang Bank of America dan tempat-tempat di sekitar KJRI.

Menurut Konjen RI Subijaksono Sujono, "Upacara 17 Agustus...adalah waktu bagi WNI untuk meresapi semangat kemerdekaan dan keberbangsaan, terlebih-lebih ketika tinggal jauh dari tanah air." Demikian kepada masyarakat Indonesia lainnya yang sudah beralih kewarganegaraan.

Mari menaikkan bendera Merah Putih di LA.....

Blog EntryDISTORSI KACAMATAFeb 18, '07 9:07 PM
for everyone




Kolom: Agusti Anwar


Dulu, waktu mahasiswa, ada seorang anak laki-laki kecil kelas 5 atau 6 SD yang memandang saya dengan ekspresi agak kagum. Bukan karena apa-apa, tetapi karena saya memakai kacamata.


“Bang, abang pasti orang pintar, ya?”

“Kok? Maksudnya bagiamana?” tanya saya.

“Abang kan pakai kacamata!” Saya masih belum maklum benar.

“Orang pakai kacamata kan pintar?”


Mm, saya hanya bisa senyum-senyum; tidak tahu mau mengatakan apa.


Baiklah. Saya tidak pernah mengklaim diri pintar, meski telah menjadi kutu buku sejak pandai membaca di kelas 1 dan terpaksa memakai kacamata sejak kuliah di tingkat dua. Satu-satunya pernyataan yang benar tentang kacamata hanyalah bahwa mata saya memerlukan alat bantu untuk mengoreksi fokus visual (corrective lenses) agar melihat dengan lebih jelas. Myopia, namanya; jelas kalau melihat dekat, kabur kalau jauh. Apakah karena dulu terlalu banyak membaca?


Saya tidak akan membahas masalah ini, tetapi soal kacamata itu. Kacamata atau pun lensa kontak hanyalah wujud materi dalam menata ulang tampak pandang kita, tentang apa-apa yang ada di hadapan mata. Sebetulnya, semua kita selalu memakai kacamata dalam mempersepsi dunia. Apakah anda sehari-hari memakai kacamata yang bertengger di atas hidung atau pun tidak, sebetulnya bagaimana sudut pandang terhadap segala sesuatu sangat berpijak pada kacamata yang dipakai itu


Itulah kacamata dalam tanda petik. Jadi, bukan soal bingkai rodenstock, designer eye glasses, tebal tipisnya lensa, jenis metal yang digunakan atau lainnya. Melainkan, soal sebuah sudut pandang terhadap apa pun di luar diri dan bagaimana kita menyikapi atau bereaksi terhadapnya.


Kacamata ini adalah soal world view kita; sebuah Weltanschaung---dalam bahasa Jerman. Kacamata adalah penentu persepsi: suka atau benci, setuju atau tidak, marah atau sayang, damai atau perang. Seluruh fakultas rasa yang masuk ke otak atau ke hati, kemudian diterjemahkan menjadi reaksi, bahkan tindakan, adalah hasil saringan oleh kacamata yang kita pakai. Dengan demikian, mata yang normal secara klinis sekali pun, belum tentu memandang dunia persis seperti apa adanya.


Entah mengapa, semua kita seakan perlu mengoreksi terus-menerus kacamata pandangan. Seringkali, tiba-tiba kita jadi rabun dekat atau malah rabun jauh. Ketika lensa yang dipakai berwarna biru, seluruh yang dianggap benar berwarna biru. Bila kacamata hitam dikenakan, apalagi di tengah malam, maka dunia pun semakin gelap, bahkan tak terlihat. Kacamata kuda?


Apabila kacamata kita diwarnai sebuah ideologi, maka segala sesuatu yang di luar itu semakin sulit untuk dipandang benar. Dengan kacamata pikiran yang marah, dunia dilihat dengan penuh dendam dan kebencian. Prasangka buruk adalah proyeksi kacamata hati yang tak rela terbuka. Kacamata yang sempit membuat kita lebih cepat murka dan memaki-maki orang lain, padahal belum betul-betul melihat orang itu dengan sungguh-sungguh. Dari kacamata pembenci Islam, seluruh kaum Muslim adalah teroris. Sedangkan bagi mereka yang kacamatanya kaku melihat umat lain, seluruhnya dinilai kafir.


Sebab, salah satu kecenderungan manusia, hanyalah melihat apa yang ingin dilihat. Meskipun seluruh kebenaran ada di depan mata, namun ketika kacamata yang dipakai tidak sesuai dengan hal itu, maka kebenaran sekali pun tetap tak akan terlihat. Kesalahan yang dilihat bisa nun jauh di sana, sedangkan kebenaran hanya sejengkal jaraknya, yang terlihat tetap yang jauh itu. Seperti kata pepatah, “Tungau di seberang lautan tampak jelas, sedangkan gajah di pelupuk mata tak terlihat”. Kita hanya akan melihat apa yang ingin kita lihat.


Inilah sebuah manifestasi dari beragam bentuk distorsi kacamata. Bahkan semua tragedi kemanusiaan, apakah terkait dengan ras, suku, agama, paham, atau apa pun itu, adalah produksi kacamata yang sempit dalam melihat dunia di sekitar. Lalu, ketika sudut pandang mata kita diubah menjadi reaksi fisik yang bermusuhan, maka akan datanglah kehancuran.


Itulah sebabnya mengapa setiap waktu kita perlu mengoreksi kacamata yang dipakai. Apakah minus atau plusnya bertambah, apakah fokusnya semakin distortif, apakah warnanya tepat? Dari waktu ke waktu, perubahan dapat terjadi. Sebab hidup sering kali adalah sebuah kompromi; yang selalu berkembang di sekali waktu, sedangkan di kala lain ia kadang menyempit. Distorsi sangat mungkin terjadi.


I see no color”, kata Stevie Wonder, penyanyi kulit hitam yang terlahir buta itu, ketika sekali waktu ditanya soal rasialisme. “Bagi saya, semua adalah hitam”. Dan Stevie si pelantun lagu “I Just Called To Say I Love You” itu, ternyata bisa menjadi lebih bijak (walau dengan jenaka) tanpa mata sekali pun.


Sungguh dunia ciptaan Tuhan penuh dengan warna-warna.


LA, 18 Feb 2007

Blog EntryBULE SALAH TEMPAT Sep 16, '06 8:46 AM
for everyone

 

 

Kolom: Agusti Anwar

 

 

Hari Minggu ketika dengan keluarga singgah ke Mayestik, Jakarta Selatan, kami melihat seorang laki-laki berambut pirang yang berbuka baju, bertelanjang dada, duduk lepas di jejeran pedagang kaki lima, dengan rokok mengepul. Usianya mungkin menjelang 40an, perutnya sedikit membuncit, baju kausnya menggantung di bahu. Senada dengan pirang rambutnya, kebetulan kulitnya pun sedikit terang, tidak gelap.

 

Tentu saja ia bukan bule. Mungkin bukan pula sopir bajay atau tukang ojek. Herannya, sepertinya ia pun bukan termasuk mereka yang bermobil mewah, berpenampilan modis dan ketika berjalan memasang muka tinggi seolah seluruh manusia di sekitarnya adalah kaum kelas dua.  Yang jelas ia adalah salah satu warga negeri yang sudah bosan tampil dengan warna rambut hitam yang alamiah. Sebuah trend yang semakin meluas ke pelosok negeri sekarang ini.

 

Mencat rambut sendiri dengan pewarna pirang, apakah seluruhnya atau hanya beberapa bagian, memang menjadi ekspresi gaya rambut (hair style) atau, bahkan, gaya hidup (life style) yang semakin digemari. Pewarna rambut pun semakin banyak tersedia di supermarket. Kalau tidak pun, setiap salon kecantikan menyediakan jasa penantaan rambut sesuai keinginan termasuk soal warna.

 

Kalau anda mengendarai mobil mewah, tampil dengan sangat sadar mode, beranjangsana di tempat-tempat berkelas, tetapi jika rambut tidak dipirangkan, apakah merasa ada yang kurang? Sudah takdir Tuhan bahwa rambut pirang bukan diperuntukkan bagi bangsa-bangsa Asia, kecuali mereka yang mengalami gangguan genetis kekurangan pigmen sehingga terlahir albino. Saking tidak lazimnya, kata bule pun berasal dari pemaknaan albino, karena dianggap tidak alamiah. Namun, sesuai dengan perkembangan zaman, atau semakin mendalamnya perasaan inferior sebagai bangsa, maka ekspresi untuk tampil menjadi bule justru dinilai maju dan perlu.

 

Di tanah air, gejala ‘bule cat sendiri’ memang baru menonjol sejak beberapa tahun terakhir. Di negeri orang-orang berkulit putih, pewarna rambut tentu sudah dikenal sejak lama. Ada yang ingin menjadi pirang atau justru ingin berambut hitam. Atau berganti-ganti sesuai selera saat itu. Yang jelas, bagi perempuan, memiliki rambut pirang alias blondy adalah idaman, walau pun sering diidentikkan dengan perempuan yang rendah kemampuan intelektualnya. Kendati demikian, karena memang sudah kodrat Tuhan, bagi bangsa kulit putih, apa pun warna rambutnya, pirang yang kemerahan, kuning emas atau putih perak pun, bahkan hitam, tetap terlihat pantas.

 

Pertengahan 1990an, ketika di negeri kita memirangkan rambut belum lazim, saya punya seorang teman kuliah di Australia yang warna rambut aslinya saya tidak tahu pasti. Yang pasti, di kamar mandi ada sejumlah pewarna rambut (colorant) dengan berbagai variasi dan bleach untuk pengguyur warna. Walaupun ia laki-laki, tetapi rambutnya yang panjang dan selalu diikat, bolak-balik berganti warna, dari mulai pirang sekali sampai hitam legam. Toh ia memang bule, sudah galib saja kalau rambutnya mau warna apa.

 

Yang membuat saya terkesan waktu itu justru pilihan warna rambut seorang teman dari Hongkong. Dengan gel yang membuat rambutnya terangkat, rambut itu diberi warna hijau terang. Seluruhnya dan sangat mencolok. Ia tidak termasuk anggota kelompok punk atau apa, hanya sekedar sangat percaya diri. Ketika berjalan di antara rambut-rambut pirang, seorang lelaki Asia berkulit kuning dengan tenangnya menjadi tumpuan pandangan karena rambutnya berwarna hijau. Ternyata orang-orang bule yang sudah biasa melihat rambut beragam warna, tetap terkesima juga melihat rambut yang hijau.

 

Yang sempurna kehijauannya barangkali hanya Hulk The Incredible. Jika Dr. David Banner tertekan emosinya sehingga berubah wujud menjadi raksasa Hulk, seluruh warna tubuh dan rambutnya akan menjadi hijau sebagai efek samping kegagalan eksperimen kimia di laboratorium. Namun Hulk hanyalah tokoh komik yang paling jauh hanya muncul di layar lebar dengan teknik animasi Hollywood yang memukau. Tuhan tidak pernah menciptakan satu kelompok ras pun yang berwarna hijau, tidak juga rambut.

 

Bangsa-bangsa di dunia ada yang keriting, ikal atau berambut lurus. Warna-warnanya pun, selain hitam, ada yang pirang, kemerahan atau kuning emas. Kebetulan bangsa yang terdepan saat ini dalam peradaban modern dan kemajuan teknologi adalah bangsa-bangsa  yang berambut pirang itu, yang berada pada posisi superior. Sisanya, termasuk bangsa kita, berada pada tataran inferior. Lalu, gaya hidup mereka pun menjadi percontohan, menjadi sebuah identitas yang didambakan. Tiba-tiba, karena sentimentalisme inferior itu, banyak dari kita yang tidak lagi mampu menghargai apa yang dimiliki sendiri. Sayangnya, yang paling banyak diadopsi justeru aspek kosmetik dan kulit luar modernitas itu, karena hal itu memang yang paling mudah, sedangkan tradisi keintelektualan dan inovasi teknologi dikebelakangkan.*

 

Lalu, muncullah pribadi-pribadi tanggung itu, yang selalu canggung di mana pun berada. Di dunia Barat, mereka tidak percaya diri, namun juga merasa asing di negeri sendiri. Lalu, ketika sedikit kemewahan didapat, sedikit cas cis cus pun mampu diucap, lidah pun seperti menjadi hambar, bahkan rambut hitam panjang yang indah itu pun terasa tidak pas lagi. Maka bermunculan bule-bule salah tempat itu. Herannya, dengan krisis identitas yang demikian menonjol, sebagian bahkan berekspresi seolah-olah mereka lebih mulia dari rakyat umum lainnya. Tidak selevel?

 

Benar bahwa memirangkan rambut dapat sekedar menjadi ekspresi mode, tanpa ada implikasi lain. Yang menyedihkan tentunya apabila pemirangan rambut pun mengental menjadi sikap tidak mampu mensyukuri apa yang diberikan Tuhan kepada ras bangsa kita, yang sungguh-sungguh merupakan perwujudan perasaan inferior sebagai sebuah bangsa. Bagaimana mungkin bangsa yang tidak bangga pada dirinya sendiri mampu menjadi bangsa yang besar?

 

 

Jakarta, 10/16 September 2006

 

*) Itu pula yang membedakan pirangnya orang Jepang atau Korea, yang paling tidak berani lebih inovatif dan tampil menjadi penyaing kemajuan Barat.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help