What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Meskipun bendera merah putih selalu tampil dalam blog Kolom-kolom Agusti Anwar ini, namun sesuai ajakan Mbak Thia, headshot blog ini akan berbentuk merah putih dalam rangka HUT RI ke-63.
Selamat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke--63. Salam merdeka!!
Anda tahu ada berapa banyak bahasa-bahasa daerah di negara kita? Menurut berita yang diturunkan Harian Kompas, edisi 12 Agustus 2008, dengan mengutip Multamia RMT Lauder dari Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia: 742 bahasa.
Seperti banyak hal di negara kita yang kaya itu, kita memiliki jumlah-jumlah yang besar dan banyak sekali keberagaman. Dengan 17 ribu lebih pulau, kita membuat bangsa lain menganga dengan menyebut jumlah saja. Dua ratus tiga pulu juta penduduk, yang juga berarti negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Dan bahasa---lebih dari tujuh ratus bahasa daerah (dan dialek). Saya mungkin hanya mampu menggunakan atau mengerti lima daripadanya. Tentu, itu pun bahasa-bahasa yang tergolong besar, karena penuturnya yang cukup banyak.
Persoalannya, dari penuturan pakar bahasa UI itu, dari jumlah bahasa yang kita punya, ada 169 bahasa yang terancam punah. Artinya, 22,8 % dari kekayaan dan keberagaman bahasa kita akan segara hilang, apabila tidak dilakukan langkah-langkah preventif yang serius dan cepat.
"Bahasa yang terancam punah itu tersebar di wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Bahasa Lom (Sumatera), misalnya, hanya berpenutur 50 orang. Di Sulawesi bahasa Budong-budong 70 penutur, Dampal 90 penutur, Bahonsuai 200 penutur, dan Baras 250 penutur. Di Kalimantan bahasa Lengilu 10 penutur, Punan Merah 137 penutur, dan Kareho Uheng 200 penutur.
Di Maluku, bahasa Hukumina 1 penutur, Kayeli 3 penutur, Naka'ela 5 penutur, Hoti 10 penutur, Hulung 10 penutur, Kamarian 10 penutur, dan bahasa Salas 50 penutur. Di Papua, bahasa Mapia 1 penutur, Tandia 2 penutur, Bonerif 4 penutur, dan bahasa Saponi 10 penutur."
Bahasa, menurut pakar-pakar linguistik, adalah sesuatu yang hidup. Ia berkembang dan bertumbuh. Sebaliknya, tentu ia juga dapat menyusut, lemah dan mati.
Bayangkan bahasa-bahasa daerah yang hanya memiliki penutur dari 1-100 orang? Yang paling menyedihkan tentunya bahwa besar kemungkinan penutur yang masih ada itu pun dari kalangan generasi tua, sehingga kelangsungan usia bahasa-bahasa yang terancam itu akan sama dan sebangun dengan sisa usia penuturnya. Terlebih-lebih karena bahasa-bahasa yang terancam itu cenderung tidak memiliki tradisi tulisan, sehingga selama ini tidak memiliki teks-teks yang dapat diarsipkan dan dipelajari di belakang hari.
Kita adalah negara yang kaya, yang salah satu kebanggaan kekayaannya adalah keberagaman khasanah bahasa itu. Perlu usaha keras dan cepat agar pengawetan bahasa-bahasa daerah yang terancam ini dapat dilakukan. Perlu sekali upaya pendokumentasian bahasa-bahasa daerah itu, dengan teknologi cetak, audio dan video yang sekarang kita miliki.
Ayo, anda-anda yang punya kompetensi dalam masalah ini, departemen teknis, lembaga bahasa, para mahasiswa yang sedang riset, generasi muda pewaris bahasa terancam, marilah melakukan sesuatu, tindakan preventif yang segara. Barangkali resources dari The Endangered Language Fund dapat dimanfaatkan; atau yang lainnya. Jangan sampai kekayaan kita yang ini pun menjadi punah.
Upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI dilaksanakan di mana-mana, bahkan di luar negeri. Di Los Angeles, Upacara ini dilaksanakan di halaman KJRI Los Angeles.
Semua hadirin diharapkan sudah datang pada pukul 09.00 pagi. Karena jatuh di hari Minggu, urusan parkir lebih mudah, bisa di sepanjang jalan di Mariposa, lapangan parkir KJRI (Mariposa - 6th St), di belakang Bank of America dan tempat-tempat di sekitar KJRI.
Menurut Konjen RI Subijaksono Sujono, "Upacara 17 Agustus...adalah waktu bagi WNI untuk meresapi semangat kemerdekaan dan keberbangsaan, terlebih-lebih ketika tinggal jauh dari tanah air." Demikian kepada masyarakat Indonesia lainnya yang sudah beralih kewarganegaraan.
Di LA, masyarakat Indonesia dan KJR Los Angeles menggelar perayaan HUT RI ke-63 dengan berbagai rangkaian kegiatan. Tentu dimulai dengan pertandingan olah raga. Mulai dari bowling, pimpong, volley, basket, badminton, golf dan juga permainan seperti bilyar, gaple dan tarik suara karaoke.
Yang lebih meriah tentunya nanti kegiatan Celebrating Indonesia, pada Sabtu, 30 Agustus 2008. Acara ini menampilkan bazar, ekspo produk dan informasi; peragaan busana, tari-tarian dari berbagai daerah, permainan gamelan (live) Jawa dan Bali, reog, peragaan membatik, peragaan keris nusantara, pencak silat; dan juga penampilan band lokal yang oke punya. Reza Saleh dan kawan-kawan yang sudah pernah menang di festival jazz Long Beach juga akan muncul, bahkan ia ikut jadi panitia. Dari artis nasional rencananya akan tampil juga Ariyo Wahab serta dari penyanyi dangdut.
Di hari Sabtu, 30 Agustus ini, juga akan dicanangkan sebagai hari batik demi untuk lebih memperkenalkan batik sebagai khasanah kekayaan Indonesia kepada masyarakat AS. JAdi, apabila anda hadir bersama-sama warga California lainnya, sangat dianjurkan mengenakan batik. Atau pakaian daerah lainnya. Acara ini juga akan dihadiri pejabat AS setempat dan kalangan consular corps.
Ayo, spread the words! Undang teman-teman anda, semua, datang beramai-ramai. Periksa info lebih lanjut di website di atas.
Pungkas Tri Baruna telah berpulang, dari gunung salju di Alaska.
Tengah malam hampir pagi Selasa di Los Angeles (8 Juli), tiba-tiba telepon genggam saya yang tidak pernah dimatikan berdering. Ketika diangkat, seorang mountain ranger dari Denali National Park, Anchorage, Alaska, berbicara dengan bahasa yang jelas. Ia mengabarkan tentang musibah yang menimpa Tim Ekspedisi Indonesia di Alaska, bahwa Pungkas Tri Baruno (20 tahun) telah meninggal dunia dalam ekspedisi di Kutub Utara itu.
Saya tahu bahwa Alaska bukan wilayah kerja KJRI Los Angeles. Tetapi karena hanya nomor saya yang sempat diperoleh sang Ranger untuk dihubungi di dini pagi itu, saya tampung dulu semua informasi yang disampaikannya; agar saya teruskan kepada sejawat di KJRI San Fransisco yang membawahi Alaska.
Segera setelah itu, dengan informasi yang ada saya menghubungi sejawat yang menangani bidang kekonsuleran (dan perlindungan WNI) di San Fransisco. Walau dini pagi, segala yang perlu dan mungkin, segera dilakukan dan dihubungi sejawat yang bertugas itu. Ia pun telah terbang langsung ke Alaska. Dan sekarang, informasi perkembangan musibah itu telah dibaca di media massa. Berita pers juga sudah disiarkan oleh Departemen Luar Negeri.
Pungkas telah berpulang, pukul 09.40 malam waktu Alaska, 7 Juli 2008.
Perasaan saya terasa berkecamuk waktu dini pagi itu. Bayangkan, pemuda Indonesia, yang dibesarkan di tanah tropis negeri kita, melakukan ekspedisi ke gunung McKinley di Alaska, yang hanya ada salju dan salju.
Dingin.
Pungkas memang berhasil menancapkan bendera Indonesia, merah putih, di puncak gunung di negeri salju itu. Namun, sepertid diberitakan, ketika turun ia mengalami pusing dan tidak sadarkan diri. Ia meninggal di ketinggian 5000 meter di atas permukaan laut.
Ketika hati ikut bangga atas prestasi Tim Ekspedisi Tunas Indonesia dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka itu, terasa pula duka belasungkawa yang dalam.
Juga, bendera merah putih menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-63 telah berkibar di puncak gunung yang dikenal sebagai "Denali" atau "the Great One" di Alaska.
Dalam usianya yang muda, semoga arwah Pungkas Tri Baruno mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggal menjadi tabah; dan para sahabat dan seluruh anak bangsa ikut memanjatkan doa.
LA, 9 Juli 2008
Foto Pungkas (alm) Dok Kwarnas Pramuka, seperti dimuat DetikNews.com Foto gunung McKinley dari Wikipedia.
Seberapa kental rasa suka anda terhadap dunia persilatan? Baiklah, bukan soal ilmu bela diri per se, tetapi soal pengisahannya, hikayatnya, komiknya, filmnya dan sebagainya?
Saya termasuk penggemar berat. Kalau anda baru saja menonton film animasi Kungfu Panda (2008) yang baru saja dirilis di bioskop, tentu suasananya akan semakin terasa. Bukan soal animasinya, atau fakta bahwa film ini dibuat oleh Dreamworks bukan Golden Harvest berbasis Hongkong; oleh sutradara Barat, berbintangkan Joe Black sebagai sang panda gemuk, Po, dan seterusnya. Sebagai film dengan rating PG, ini animasi lucu yang manis saja, termasuk penampilan sang guru (shifu) oleh Dustin Hoffman yang dibuat mirip Obi Wan Kanobi-nya Star Wars. Tetapi, bagaimana pun ini memang film silat, lengkap dengan pakem persilatan yang sangat khas Daratan Cina.
Apapun format penyuguhannya, termasuk film animasi, hikayat dunia persilatan bagi saya sangat mengesankan. Ketika dulu kecil dan belum masuk sekolah, ketertarikan saya untuk bisa membaca teks komik-komik persilatan yang penuh gambar menarik itu telah memotivasi untuk cepat-cepat pandai membaca. Hanya di kwartal pertama di kelas satu, saya sudah langsung lancar membaca. Berkat komik persilatan.
Selain komik, tentu semua tahu tentang deretan panjang cerita silat buah karya Khoo Ping Ho. Berpuluh-puluh jilid cerita silat berbentuk stensilan itu dilahap habis penggemar dunia persilatan dari tanah Tiongkok. Tak usahlah disebutkan lagi nama-namanya atau jurus-jurusnya. Yang pasti semua penuh kehebatan; lengkap dengan jurus-jurus mumpuni dengan ilmu meringankan tubuh (ginkang) yang tinggi.
Memang bagi saya, setiap kali disebutkan tentang dunia persilatan, ada sebuah imagi otak yang selalu berulang. Kata orang yang mendalami psikologi, kenangan imagi pertama yang muncul dalam benak kita setiap kali dirujukkan sesuatu hal adalah gambaran yang paling mewakili dasar ingatan kita.
Bagi saya, setiap kali dunia persilatan itu disinggung, kelebatan ingatan yang tampil sebagai bentuk asosiasi dari konteks itu bukanlah dari Legend of the Condor Heroes, perguruan Shaolin atau lainnya. Herannya, yang selalu muncul di benak saya adalah seorang pendekar pedang yang berjalan menuju sebuah rumah kecil tepat di sisi kaki ngarai yang bersemak hijau rimbun, dengan pohon-pohon besar di belakangnya. Udara saat itu terasa sejuk, seperti saat setelah turunnya sedikit hujan yang melembabkan.
Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, tetapi bagi saya itulah bentuk asosiatif yang selalu hadir. Seingat saya, setting cerita komik itu menampilkan seorang pendekar bernama Mahesa. Judulnya pun telah lupa, tetapi suasananya terasa lengket sekali. Apakah itu karya Djair, Jan Mintaraga, Ganes TH atau siapa, tak lagi saya ingat persis. Namun ia menjadi kenangan batin yang melekat, terbawa ke mana-mana.
Dunia persilatan ini memang merupakan pembeda antara sejarah perhikayatan dunia kepahlawanan di Barat dan Timur. Meskipun sama-sama diwarnai benang merah pertarungan antara baik dan buruk yang selalu memunculkan pahlawan penegak keadilan, tetapi tema besar (dasar) ini diwujudkan dengan metode yang berbeda.
Ketika di Barat, kehebatan selalu dibasiskan pada senjata keras, baju besi, kuda dan akhirnya senjata api, tembak-menembak para koboi, di dunia Timur, kisah masa lalu lebih berbasiskan upaya memantapkan diri pada filosofi batin, melalui tapa meditasi, latihan gerak tubuh dan jurus-jurus. Para pendekar mempelajari ilmu kebal, bukan dengan memasang pelapis baja, tetapi ketahanan dari dalam.
Dalam seribu satu legenda yang diceritakan, para pendekar itu pun dikisahkan memiliki ilmu tenaga dalam yang mumpuni, bahkan dengan kemampuan meringankan tubuh sedemikian rupa sehingga seperti bisa melayang dan terbang. Itulah sebabnya mengapa dalam hikayat para pendekar kita, kedalaman sebuah ilmu justru akan semakin mengambil bentuk yang halus (subtil) dan tidak mencolok.
Seorang pendekar pedang mumpuni yang turun gunung, di mata saya, bukanlah sebuah figur sombong yang menggotong pedang besar ke mana-mana. Akan tetapi adalah seorang jelata yang bahkan pedangnya pun demikian tersamar seperti tidak penting. Sebab, semakin mumpuni seorang pendekar pedang semakin tidak penting bentuk fisik pedang itu. Seperti seorang ahli sufi, pendekar pedang sejati tentu sudah mencapai tingkat kedalaman yang tinggi, sehingga dapat menggunakan apa saja sebagai pedang, sepotong ranting sekali pun.
Demikianlah dunia persilatan itu; sebuah dunia yang mengagumkan. Lalu sekarang ini, ketika hikayatnya disuguhkan dengan sofistifikasi teknik perfilman yang canggih, dunia persilatan yang kita saksikan menjadi semakin menarik. Selain komik yang lebih tradisional, film-film layar lebar telah mampu menampilkan dunia para pendekar ini dengan pesona yang sangat menawan, lengkap dengan segala macam jurus dan ilmu yang bahkan melampaui batas harapan si penggubah cerita yang asli.
Dengan sutradara sekaliber Tsui Hark, Zhang Yimou dan beberapa lainnya, misalnya [bahkan yang berbasis Korea], dunia persilatan tampil sangat ajaib dan menawan. Di antaranya, yang paling artistik di mata saya adalah Hero-nya Jet Li, dari buah tangan sutradara Zhang Yimou. Menonton film-film persilatan itu, bagi saya seakan dibawa pulang kepada kenangan lama, tentang seorang pendekar pedang di sebuah rumah kecil di kaki ngarai hijau yang sejuk, dengan pohon-pohon besar di belakangnya.
Yang pasti, kombinasi dunia persilatan dan perfilman telah mengangkat RRC ke tingkat dunia melaui legenda para pendekar kungfu. Kita tentu sangat berharap kiranya akan sampai juga kemampuan Indonesia mengangkat karya-karya Jan Mintaraga dan lainnya ke layar lebar dengan kualitas internasional yang setara, sebagai bentuk promosi karya anak bangsa.
Bagi saya, ada perasaan yang agak lain pada peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional di bulan Mei 2008 ini.
Memang, tidak akan semua orang merasa ada yang istimewa dari peringatan kebangkitan nasional. Mereka yang skeptis, begitu melihat seribu satu permasalahan nasional, cenderung akan mempertanyakan bangkit apanya. Biasalah, akan banyak saja kita yang terlalu cenderung melihat segala sesuatu dari sudut problema saja. Sebagian, bahkan sampai lupa menghargai peluang.
Yang membuat saya terharu ketika mengikuti upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu, adalah cuplikan pidato Presiden RI, yang tegas menggarisbawahi kemampuan kita, sebagai sebuah bangsa:
"... sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit, kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, ‘Bangsa Yang Bisa’! Bisa mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan, dan bisa mengatasi berbagai tantangan sejarah!"
Yang saya garis bawahi adalah soal kemauan itu; soal "kita bisa" itu. Di Los Angeles, kita pun mengadakan acara Gebyar Pendidikan Indonesia, yang dibagi ke dalam segmen simposium serius dan pentas putera-puteri Indonesia. Gebyar pendidikan ini merupakan penyatuan semangat kebangkitan (20 Mei) dan aspirasi pendidikan (2 Mei) yang keduanya diperingati di bulan Mei.
Untuk segmen pentas putera-puteri Indonesia ini, di samping menampilkan tarian bersama Alya dan teman-teman, Aisya puteri saya yang tertua, pun tampil membaca puisi: "Menjadi Anak Indonesia". Ini memang puisi dadakan yang saya tulis ringkas saja, bahkan tanpa sempat dipoles; yang penting menampilkan semangat anak Indonesia itu.
Menjadi Anak Indonesia (Dibacakan oleh Aisya Nurul Fadila Anwar)
Menjadi anak Indonesia adalah menjadi anak yang bangga terhadap sebuah bangsa yang besar
Menjadi anak Indonesia adalah pembawa harapan dan masa depan sebuah negeri yang luhur yang kaya, indah dan subur
Menjadi anak Indonesia membuat kita perlu selalu santun dan berbudi karena bangsa kita adalah bangsa yang tinggi hormat kepada orang tua, berpekerti
Menjadi anak Indonesia memberikan kita warisan lingkungan yang hijau burung-burung yang terbang, di tengah angin yang juga tanggung jawab untuk masa depan
Menjadi anak Indonesia adalah kita yang tidak hanya berkeluh kesah tetapi anak-anak yang melihat peluang adalah mereka yang berkata "aku bisa!" adalah mereka yang berkata "aku siap!" adalah yang berdiri di depan untuk ibu pertiwi
Ketika Aisya membacakan puisi ini, semua hadirin menyimak. Termasuk Bapak Konsul Jenderal RI Subijaksono Sujono dan Ibu.
Faktanya memang, anak-anak kita adalah anak-anak yang potensil. Berada di AS sekarang ini, saya melihat banyak anak-anak yang berprestasi, unggul di antara teman-temannya. Di kampus-kampus, mahasiswa kita, sampai para dosen kita, adalah mereka yang tidak kalah dalam kemampuan. Tentu kita juga tahu, bahwa di tanah air, kita bahkan punya bakat seperti George Saa yang dari Papua bisa memenangkan Olimpiade Fisika dunia. Bangsa yang bisa!
Keyakinan akan potensi dan peluang kita adalah modal kuat untuk bangkit. Ayo, katanya kita kan bangsa yang besar.
Per 23 Mei lalu, travel warning yang ditetapkan AS bagi Indonesia telah dinyatakan dicabut. Pernyataan ini disampaikan oleh Dubes AS di Jakarta Cameron R. Hume pada tanggal 25 Mei. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi menjadi negara yang bagi warga negara AS disarankan untuk tidak dikunjungi.
Saya kira, kita patut menghargai keputusan bijak AS ini, yang seharusnya memang telah dilakukan sejak lebih awal. Seperti diketahui, travel warning terhadap Indonesia telah dikeluarkan sejak November 2000.
Dengan demikian, peringatan wisata AS terhadap Indonesia justru telah dikeluarkan lebih awal daripada peristiwa 11 September di tahun 2001.
Dengan telah diubahnya status tujuan kunjungan ini, tentu diharapkan hubungan kerjasama antara kedua negara dapat menjadi semakin baik, khususnya di tingkat rakyat-dengan-rakyat (people-to-people).
Saya tahu bahwa banyak masyarakat AS yang tetap berkunjung ke Indonesia sebelumnya meskipun status warning masih berlaku. Yang telah pernah berkunjung biasanya juga membawa khabar baik bagi yang lain, bahwa Indonesia tempat yang menarik dan aman untuk didatangi.
Karena alasan travel warning, sebelum ini juga menjadi hambatan bagi kerjasama di berbagai bidang seperti pariwisata, pendidikan dan hubungan sosial lainnya. Hanya karena masalah travel warning, mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia di University of California in Los Angeles (UCLA), misalnya, justru melakukan praktek lapangan di Singapura atau Filipina, bukan di Indonesia.
Tentu kita berharap dengan ditiadakannya travel warning ini akan banyak peluang yang lebih baik dan saling menguntungkan yang dapat diraih dan dikembangkan oleh kedua bangsa, khususnya bagi rakyat Indonesia.
Seratus tahun hari kebangkitan nasional, demikian bunyinya.
Saya tahu akan banyak juga yang skeptis dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih memprihatinkan, jauh dari kesan bangkit, tetapi kebangkitan bangsa harus dilakukan dan jangan ditunda lagi.
Ini soal semangat; bagaimana kita beramai-ramai mengangkat semangat kebangkitan itu agar tidak sekedar menjadi hampa.
Apa yang dapat kita lakukan, di tingkat diri, teman, kelompok, kampung, kota, negara dan seterusnya untuk mengusung semangat bangkit ini? Untuk semua kita---semua peran kecil, apalagi yang besar, akan berguna.
Di yang dimaksud, bukanlah sebuah nama apalagi nama seorang aktor atau figur selebritis yang mencuri banyak hati penggemarnya. Di yang dimaksud adalah di-nya Pak Yus Badudu atau Gorys Keraf atau para pakar tata bahasa Indonesia lainnya.
Pastilah bahwa menulis bukan urusan yang enteng. Ketika belajar menuliskan huruf dalam bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, masih banyak sekali kesulitan menulis yang dihadapi sampai nanti telah menjadi sarjana strata sekian sekali pun.
Di antara banyak permasalahan lazim dalam bentuk bahasa Indonesia tertulis ini akan terkait dengan persoalan di ini. Novel berjudul 'O' tidak ada hubungannya dengan 'di', walaupun terkesan eksotik, karena di yang kita maksud semata-mata soal sebuah imbuhan awalan dan kata depan.
Menurut anda, mana yang benar dari bentuk penulisan kata-kata berikut: di kunyah, ditelan, di rumah, direstoran?
Untuk kata kunyah dan telan, diberi awalan di yang terpisah dan bersambung. Sedangkan di depan kata rumah dan restoran, yang pertama dipisahkan dan yang berikutnya disatukan.
Kalau kita masih memiliki kesulitan untuk menentukan pilihan dengan cepat, dapat dipastikan bahwa hukum penulisan awalan di masih belum betul-betul dipahami. Namun kalau anda langsung menconteng tanda benar untuk bentuk ditelan dan di rumah, maka persoalan tentang di dan di tidak anda hadapi.
Betul bahwa kriteria tata bahasa yang berlaku untuk awalan di ini sangat sederhana. Bahwa untuk kata kerja, yang tentu bersifat pasif, awalan di mesti langsung ditulis dalam bentuk bersambungan. Sedangkan bentuk yang terpisah merupakan penanda bahwa ia merujuk kepada tempat. Di kantor menjadi benar penulisannya, sedangkan di kerjakan adalah salah.
Memang demikian sederhana. Namun, herannya, kesalahan dalam penulisan awalan di ini sangat lazim terjadi dan kita temukan. Bukan saja dalam karya tulis murid sekolah menengah, makalah mahasiswa, tetapi juga dalam laporan berita surat kabar dan buku.*
Di kantor, kalau staf anda yang membuat konsep laporan selalu saja salah dalam menempatkan awalan di ini, tentu dapat anda koreksi dan benarkan. Sekali (atau bahkan dua tiga kali) masih dapat dimaklumi. Namun, sering kali yang terjadi dan dialami banyak orang adalah bahwa kesalahan sederhana ini selalu terulang dan terulang kembali. Perulangan itu terjadi dalam bentuk yang selalu terbalik; bahwa di depan kata kerja di dipisahkan, sedangkan di depan kata benda tempat, di disatukan.
Jadi, jangan heran kalau ternyata demikian sulit memahami dan menanamkan (dalam hati dan bawah sadar kita) aturan penulisan yang terkait dengan di dan di ini. Di yang dimaksud, bukanlah nama seorang aktor.
Los Angeles, 15 Mei 2008
*) Jangan heran kalau anda mungkin pernah terserempak kesalahan penggunaan imbuhan awalan ini dalam makalah ilmiah tentang tata bahasa yang ditulis sarjana bahasa Indonesia.
Sekedar info, di Los Angeles yang notabene pusat perfilman AS dan dunia, para aspiran film Indonesia, baik mahasiswa sampai para pekerja film, termasuk sekedar penggemar film, bergabung dalam suatu komunitas film yang disebut Indonesian American Film Society (INAFILMS). Berbasiskan Los Angeles, komunitas ini diharapkan akan mampu menyatukan semua aspiran perfilman kita di berbagai wilayah AS.
Memang masih sangat hijau, tetapi semangatnya kuat. Dengan difasilitasi KJRI Los Angeles, Komunitas ini diharapkan akan semakin berkembang dengan tujuan membangun jaringan perfilman Indonesia dalam kaitannya dengan Hollywood.
Dapat digarisbawahi bahwa di Los Angeles juga banyak mahasiswa kita yang mengambil bidang ilmu perfilman. Sejumlah sutradara nasional sebelumnya juga menuntut ilmu di kampus-kampus perfilman di kota ini. Tentu sebagian lainnya di San Fransisco, New York dan sebagainya. Namun basis yang terkuat, mengingat Hollywood, adalah di Los Angeles.
Bersama KJRI Los Angeles, komunitas film kita itu juga akan meluncurkan Festival Film Pendek 2008, yang rencananya akan diumumkan per awal Maret ini. Festival ini merupakan kesinambungan dari Festival Film Pendek Amatir Indonesia (FFPAI) 2007 yang lalu.
Mm, info lain menyusul. Tetapi bagi yang berminat, silahkan meninggalkan jejak di inafilms.org; berikan masukan dan tanggapan. Ide dasarnya tidak lain, bagaimana kita semua ikut serta menggairahkan perfilman Indonesia, termasuk ke tingkat internasional.
Dulu, waktu ketemu dengan Liputan 6 SCTV edisi online, hati sudah terasa senang. Sebab, walaupun dari jauh, tanah air bisa terasa dekat dengan menonton video-video siaran tunda berita SCTV itu. Jauh dari Amerika, suasana tanah air jadi terasa. Bahkan termasuk banjir dan musibah yang tak putus-putus itu pun terasa dan tampak di depan mata.
Namun, teknologi pasti tak akan pernah berhenti. Semakin maju, tak akan berhenti perkembangan yang terjadi. Sekarang, ternyata layanan streaming realtime televisi nasional pun semakin banyak yang bisa dinikmati dari seluruh pelosok dunia. Berbagai layanan online televisi live berkembang pesat. Asalkan sambungan internetnya cepat, maka tidak akan ada masalah.
Saat ini, memang, yang paling menyenangkan (bagi isteri saya) adalah dari imediabiz.TV yang menyiarkan RCTI, SCTV, JakTV, TransTV, Indonsiar dan Trans7.
Juga ada sejumlah yang lain. Apakah itu jumpTV.com yang menawarkan TVRI, SCTV dan MetroTV. Baik Imediabiz dan JumpTV bisa diakses langsung tanpa harus memerlukan download program/software apa pun.
Akses yang lain, namun memerlukan download, juga bisa di alamat http://reges.junkerz.org, namun harus dilengkapi codec RealOne. Tersedia siaran TransTV, RCTI, SCTV dan MetroTV.
Lewat saluran TVU Networks juga bisa, tetapi hanya menyediakan saluran nasional ANTV. Yang ini memerlukan download player mereka sendiri. Ada banyak channel internasional, termasuk yang dari AS. Ketika saya coba membandingkan streaming saluran cartoon network secara bersamaan dengan yang disiarkan televisi cable, perbedaan realtime-nya hanya berselang 10-15 detik. Tentu yang online lebih belakangan, karena buffering yang diperlukan itu.
Saya tahu ada beberapa alamat TV online lainnya; dan tentu akan terus berkembang. Yang pasti, dunia akan semakin kecil saja.
Yang juga pasti, ketika anda di luar negeri, apa pun saluran realtime yang ada, terasa sangat menyenangkan. Dengan demikian, di mana pun kita di bumi Tuhan ini, tanah air tetap terasa sangat dekat. Selamat menikmati.
Sekedar info bagi yang tinggal di California Selatan, KRI Dewaruci per Rabu pagi berlabuh di Pine Avenue Pier, Long Beach, sampai Sabtu nanti (29 Agustus - 1 September).
Masyarakat kita kan masyarakat bahari, hidup dan besar di negara kepulauan terbesar di dunia, jadi kalau sempat asyik juga bisa mengunjungi Dewaruci di AS ini. Bayangkan, kapal berlayar tinggi yang tidak terlalu besar itu telah melanglang buana melintas berbagai samudera.
Kepada seluruh saudara sebangsa dan setanah air, selamat merayakan HUT RI ke-62..........
Indonesia Raya (Oleh W.R. Supratman)
Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru "Indonesia bersatu."
Hiduplah tanahku, Hiduplah negriku, Bangsaku, Rakyatku, semuanya. Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya.
Ref:
Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka Tanahku, negriku yang kucinta.
Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka Hiduplah Indonesia Raya.
Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka Tanahku, negriku yang kucinta.
Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka Hiduplah Indonesia Raya.
............................
Titin Fatimah mengunggah sejumlah lagu-lagu nasional di blog MP-nya.
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Disanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku Indonesia kebangsaanku Bangsa dan Tanah Airku Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku Hiduplah negriku Bangsaku Rakyatku semuanya Bangunlah jiwanya Bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya
Jumat, 17 Agustus ini, enam puluh dua tahun usia Indonesia. Tentu sebagai negara merdeka, yang berdaulat. Sebab, tanggal itu adalah penanda bebasnya negeri kita ini dari cengkraman penjajahan Belanda. Pada tanggal 17 Agustus di tahun 1945, proklamasi kemerdekaan dinyatakan dengan lantang oleh pemimpin bangsa.
Berada di Amerika, apabila datang hari kemerdekaan 4 Juli maka warga negara AS memeriahkannya dengan semarak kembang api. Namun, biasanya yang terkesan memukau justru dinyanyikannya lagu kebangsaan "The Star-Spangled Banner" itu. Para warga negara akan berdiri, dengan tangan menyandar di dada kiri, di atas hati. Pertanda patriotisme.
Di hari nasional kita, 17 Agustus, menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" adalah juga simbol patriotisme kita sebagai bangsa. Kita akan beridiri tegak, dengan tangan bersandang pada lurus kedua sisi diri. Bernyanyi dengan suara yang lantang.
Berbeda dengan lagu kebangsaan negara-negara lain yang adakalnya dapat dibawakan dengan berbagai gaya, bagi kita, menyanyikan lagu Indonesia Raya adalah dengan adab yang tertib dan tetap.
Pertanyaannya, seberapa banyak kita yang hapal dengan lagu kebangsaan kita, yang digubahkaryakan oleh Wage Rudolf Supratman itu?
Ini mungkin bukan pertanyaan serius apabila kita besar dan tinggal di dalam negeri. Namun, bagi yang di luar, apalagi yang telah lama merantau di negeri asing, pertanyaan demikian akan sangat mengena. Apalagi bagi anak-anak kita yang lahir dan besar bukan di negeri sendiri. Indonesia saja pun bisa terasa asing, apatah lagi lagu kebangsaan.
Hari ini, ketika saya terserempak lagi dengan penyanyian lagu "Indonesia Raya" kita, seperti termuat di youtube, jadi ingin mengenang semangat kebangsaan kita ini. Pak Supratman, ketika menciptakan lagu kebangsaan itu di tahun 1928 dalam 3 stanza, sehingga liriknya lebih panjang. Itulah perjalanan sejarah lagu kebangsaan kita itu.
Memang di tanah air, adalah Roy Suryo yang di awal Agustus ini yang mengklaim menemukan lagu asli "Indonesia Raya", termasuk rekaman video yang mencantumkan September 1944 (atau tahun 2604 tahun Jepang).
Tentu saja para sejarawan yang lebih tahu, bahkan para blogger, menyanggah klaim kontroversial itu, karena informasi demikian bukanlah hal baru. Blogger Priyadi malah sempat membuat entri satir yang mempercandakan klaim the so-called pakar telematika Roy Suryo.
Memang yang jelas, versi resmi lagu "Indonesia Raya" yang kita nyanyikan sekarang adalah yang lebih ringkas. Juga jelas bahwa versi satu stanza yang kita nyanyikan sekarang adalah bentuk resmi lagu kebangsaan kita.
Yang lebih penting lagi tentu bahwa lagu kebangsaan kita itu adalah pengikat hati kita sebagai sebuah bangsa yang satu.
Tahun 2007 ini, ketika Slank manggung di Roxy, Hollywood, Los Angeles, ternyata penonton tidak ada yanglangsung saja merekam file video untuk di-youtube-kan. Benar, 28 Juli lalu, Slank, minus Ridho, naik panggung dan merebut hati penggemarnya di LA. Umumnya warga Indonesia.
Jadi, kekhawatiran Bim Bim waktu ngobrol-ngobrol soal dilema zaman youtube kali ini tidak jadi kenyataan. Tidak [b]eda memang dengan tour mereka di tahun 2006 lalu, yang segera penuh meriah diunggah penggemarnya di youtube, kali ini pun bernasib sama. Penggemar tetap adalah raja.
Yang jelas ketika melihat Slank tampil itu, dengan vokal dan musik yang enak, ada kebanggaan melihatnya. Bayangkan kalau cita-cita mereka untuk sekali waktu tampil secara profesional di Hollywood Bowl, sebuah panggung bergengsi untuk penonton asing, dapat jadi kenyataan. Menggelar pentas di Roxy pun punya nilai tersendiri sebetulnya, mengingat di sana pun dulu Gun 'N Roses meniti karir. Bahwa sekarang Slank rekaman di LA dengan lagu-lagu berbahasa Inggeris untuk menjejak pasar internasional, sudah patut diacungkan jempol atas semangatnya. Kapan lagi, bukan?
Hari ini sebetulnya Dwiki juga nge-jazz di LA, tapi saya batal nonton karena urusan lain. Yang pasti, LA memang semakin kerap kedatangan artis musik kita untuk berbagai alasan. Rafi si drummer cilik juga singgah di awal tahun ini, juga rekaman dengan pemusik jazz kawakan.
Kalau dipikir-pikir, yang juga membanggakan adalah kiprah anak-anak muda kita yang bekerja keras memfasilitasi kedatangan para artis musik nasional itu. Untuk Slank, Rully Santosa dan teman-teman di belakang radio Justin118 bersungguh-sungguh. Memang, dulu-dulu pun telah berhasil menampilkan Dewa. Apalagi ada anak-anak Permias LA yang dikomandani Anggi yang ikut jadi seksi sibuk.
Sebagai band pembuka di Roxy, dua grup anak muda kita di LA muncul dengan hingar-bingar musiknya. Adalah Reog yang sangat heavy metal, dan San Teletone yang lebih ringan. Mungkin, karena bukan penggemar musik cadas yang terlalu 'bingar', suara San Teletone (St) jadi lebih menarik bagi saya, apalagi lead vocalnya cukup dinamis bergerak gaya. Kendati begitupun, saya sempatkan membeli CD rekaman lagu kedua grup itu---tepatnya, yang dijual kaos mereka dengan berhadiahkan CD. Herannya, ketika mencari video Slank tidak ketemu, penampilan Reog dan St justru lengkap di myspace, yang anda bisa lihat sendiri.
San Teletone juga telah menyatakan akan tampil lagi tanggal 18 Agustus. Kali ini pada saat Festival Band di KJRI LA, sehari setelah Upacara Bendera. Kita lihatlah nanti, bagaimana tampilan mereka di sana. Siapa tahu nanti mereka dapat menjadi bakat-bakat Indonesia yang mampu menembus khalayak yang bukan hanya kalangan sendiri.
Setelah semakin lama di LA, saya memang melihat banyak bakat-bakat seni anak Indonesia yang bersebar dan bertebar, sering saling lepas, namun potensil. Bagaimana pun LA merupakan tempat mukim masyarakat Indonesia yang terbesar di seluruh AS. Dengan sendirinya bakat-bakat itu ada, apalagi memang tertempa oleh lingkungan seni musik yang menonjol di kota ini.
Mengingat Armand Maulana-nya Gigi pun katanya besar-besar di LA---yang asyik mengetuk-ngetukkan stik sambil kuliah dan kerja sampingan---semestinya bakat-bakat lain pun dapat lebih bermunculan. Tentu saja bukan hanya musik, tetapi juga film.
Lalu, waktu Sabtu lewat jalan-jalan dengan keluarga di Third Street Promenade Santa Monica, perhatian saya pun tertawan para pemusik jalan di antara beragam jenis street performers yang ngamen terbuka di sana. Ini memang salah satu daya tarik Promenade, yang menghadirkan pianis, pemain sax, penyanyi, sampai aktivis politik. Jangan pula disangka yang tampil ngamen itu sekedar pemusik amatir yang berkemampuan sekedarnya. Banyak yang bagus, bahkan telah berkarir macam-macam.
Salah satu yang membuat saya tertarik di hari Sabtu itu adalah Eliah, yang memainkan alat musik Chapman Stick bersenar 12 yang unik. Baru kali ini saya melihat orang memainkan langsung alat musik ciptaan Emmet Chapman itu. Suaranya dapat mendayu-dayu, memang terasa sintetik, karena sangat berwarna listrik. Kalau anda dengarkan sample sesi Eliah di website-nya, maka akan tertangkaplah warnanya. Hanya saja, ketika ia tampil di Sabtu itu, beberapa nomor lagunya halus dan terasa dalam, sehingga membuat kita berhenti untuk mendengarkan.
Yang ingin saya katakan, di LA ada banyak pintu-pintu kreasi bagi peminat dan pekerja seni; banyak peluang untuk mencari pelajaran dan inspirasi.
Namun untuk betul-betul dapat sukses, perlu kerja keras yang luar biasa, karena persaingan sangat ketat. Eliah pun dan sekian lain musisi sebagus dia, turun ngamen menjajakan lagunya, bahkan menjadi pengisi reguler di Promenade Santa Monica itu. Bagaimana pun, itu artinya ia belum berhasil melampaui garis batas untuk menjadi mapan dalam bisnis musik ini.
Bagi anak-anak muda kita, mungkin pelajaran bisa dapat dari Black Eyed Peas, yang saya tulis dalam entri "Bebot, It's Filipino". Walau pun saya mungkin tidak terlalu menggemari warna musik yang berkembang sekarang, tetapi saya pun berharap agar anak-anak muda kita belajar dari mereka, terutama soal stamina kompetitif untuk akhirnya sukses.
Bangsa kita toh bangsa yang besar, jadi sudah waktunya untuk ikut memberi warna bagi dunia.
LA, 8 Agt 2007.
Diedit lagi 9 Agt, dengan insert kata baru yang digarisbawahi.
[Posting ulang, juga dari Mari Peduli-nya Kosi] ------------------------------------------------------------------------------------------------------ "Binar mata Asiah memancarkan sebuah harapan yang tak mampu terlukiskan secara jelas. Namun siapa pun yang melihatnya akan mampu mengambil kesimpulan secara cepat, bahwa gadis kecil itu sangat ingin bersekolah. Setiap hari, Asiah selalu menyempatkan diri memandangi gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Perumnas Tangerang yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan nyatanya, memang hanya sebatas pagar sekolah yang mampu disinggahinya, padahal anak-anak lain seusianya sudah duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
Ketika usianya baru empat tahun, Ayahnya meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan. Sementara ibunya sudah terlebih dulu dipanggil Allah SWT saat melahirkan si kecil Asiah. Kini Asiah hanya tinggal bersama kakak dan pamannya yang belum sanggup memasukkan Asiah ke sekolah. “bukan cuma biaya masuk sekolah, untuk buku dan peralatan sekolah pun kami belum sanggup. Semoga Asiah bisa mengerti…,” terang Sardi, paman Asiah yang bekerja serabutan.
Lain Asiah lain pula Abdurrahman di Purwakarta. Maman, panggilan bocah berusia sebelas tahun ini sebelumnya pernah sekolah. Bencana longsor yang pernah melanda tempat tinggalnya di bulan Februari 2006, memaksanya tidak lagi bisa bersekolah. Rumahnya hancur tertimpa longsor, sekaligus menimbun seluruh isi rumah tersebut. Beruntung memang Maman dan orang tuanya tidak menjadi korban. Hanya saja semenjak itu Keluarga Maman dan puluhan keluarga lainnya yang rumahnya tertimbun mendadak menjadi “orang tak punya”.
Maman tidak lagi memiliki baju sekolah, tas, sepatu dan buku-buku pelajaran yang pernah dimilikiknya. Semuanya ludes tertimbun tanah longsor bersama rumah kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Dan nyatanya, hingga hari ini Maman belum kembali ke sekolah lagi.
Ada lagi Gunawan di Bantul, Jogjakarta. Semestinya di tahun ajaran baru ini Gunawan masuk kelas 1 SMP (Sekolah Menengah Pertama). Namun Gunawan belum lagi bersekolah sejak satu tahun lalu. Rumah Gunawan di Dusun Gunungan, Plered, Bantul, luluh lantak saat gempa bumi mengguncang Jogjakarta dan Jawa Tengah, Mei 2006 silam. Sejak saat itu, orangtua Gunawan kehilangan segalanya. Butuh waktu cukup lama bagi keluarga itu untuk pulih dan bangkit dari keterpurukan. Dan salah satu yang harus dikorbankan adalah sekolah Gunawan. Kenyataannya, hingga satu tahun lebih pasca gempa bocah itu belum juga bisa bersekolah. Mahalnya biaya sekolah dan peralatan serta buku-buku menjadi alasan orang tuanya yang belum mampu menyekolahkan kembali anak-anaknya.
Sebuah berita di salah satu harian ibu kota menuliskan, para buruh tani di Rancabolang, Kota Bandung, serta buruh di kota-kota lain di Jawa Barat, mengalami kesulitan menyekolahkan anak-anaknya. Pendapatan yang mereka peroleh tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka.
Para buruh tani berpenghasilan rata-rata Rp 1 juta per empat bulan. Dengan pendapatan sekecil ini sejumlah buruh tani di Rancabolang mengaku sulit menyekolahkan anak-anak mereka. Bahkan, buruh-buruh tani itu mengaku memiliki anak yang putus sekolah.
"Dua tahun lalu, anak saya terpaksa keluar dari sekolah menjelang Ebtanas," kata Eem (41) tentang nasib anaknya Eep Saiful Anwar (13).
Eep keluar karena tidak bisa membayar tunggakan sekolah menjelang diselenggarakannya Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) untuk Sekolah Dasar. Kini Eep hanya tinggal di rumah.
"Saya sakit hati waktu dia terpaksa keluar. Saya sudah bolak-balik datang ke sekolahnya untuk meminta keringanan biaya. Tapi, guru dan kepala sekolahnya bilang kalau tidak punya uang berhenti saja," ujar Eem tentang ketidakpedulian pendidik di sebuah SD di daerah Rancabolang.
Padahal, kata Eem, anaknya masih ingin melanjutkan sekolah. Sekarang jika melihat temannya sekolah, Eep suka berkata pada Eem, "Emak, lihat tuh, temen Eep mah pada sekolah," tiru Eem.
Kini setelah anaknya putus sekolah, harapan Eem tentang masa depan anaknya yang lebih baik semakin tipis. "Saya tidak mau anak saya menderita seperti saya. Nyari duit susah, karena cuma jadi buruh tani. Tapi, kalau tidak sekolah, mau jadi apa lagi kalau bukan jadi kuli," ujar Eem yang kini tengah berpikir untuk memberhentikan lagi pendidikan adik Eep yang duduk di kelas dua SD.
"Sudah tiga bulan saya tidak bayar utang ke rentenir. Hutang saya dikenai bunga 20 persen," ujar Eem yang memiliki hutang Rp 200.000. Kemungkinan utangnya kini sudah menjadi Rp 370.000.
***
Jika mau disebut satu persatu, baik daftar nama anak-anak yang putus sekolah lantaran ketidakmampuan ekonomi maupun kesulitan yang ditimbulkan akibat bencana alam. Jutaan nama Asiah, Abdurrahman, Gunawan dan Eep lainnya akan terus menghiasi lembar hitam daftar anak-anak tidak sekolah dan putus sekolah. Jika dalam kondisi normal saja, semakin sulit bagi orangtua menyekolahkan anak-anak mereka, bagaimana lagi para orangtua di berbagai lokasi bencana yang telah banyak kehilangan harta benda mereka.
Sebagai contoh, di Kota Bekasi tercatat 170 ribu anak (usia 7-15 tahun) yang tidak bersekolah. (Tempo Interaktif, 14 April 2007). Sedangkan menurut data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Tahun 2004/2005, anak usia 7-18 tahun yang tidak sekolah dan putus sekolah berjumlah 2.993.616 orang. Belum lagi di berbagai provinsi, kota dan kabupaten lainnya di seluruh Indonesia. Meskipun menurut data pemerintah, anak usia 13 - 15 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah sekitar 4 juta anak, namun diperkirakan jumlah sesungguhnya mencapai dua kali angka tersebut. Dengan asumsi pada beberapa hal seperti, kemungkinan anak-anak yang tidak terdata, dan pertambahan jumlah data tersebut akibat berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah negeri ini.
Sebuah survey yang dilakukan Taylor Nelson Soffres, perusahaan penelitian pasar terkemuka terhadap rumah tangga-rumah tangga miskin yang mempunyai anak-anak usia SLTP, menjelaskan data-data sebagai berikut;
19% anak usia sekolah di bawah 15 tahun tidak bersekolah Biaya rata-rata untuk menyekolahkan satu anak di SD dan satu anak di SMP untuk satu tahun, termasuk biaya transpor dan seragam, bisa sama dengan 2 bulan upah minimum provinsi. 71% responden yang mempunyai anak tidak sekolah menyebut biaya sekolah sebagai faktor utama. Hanya 50% responden mengetahui kebijakan pemerintah Indonesia mengenai wajib pendidikan dasar 9 tahun. 39% menyangka bahwa wajib pendidikan dasar adalah 6 tahun. Meskipun diakui adanya faktor biaya pendidikan yang tidak terjangkau, terdapat komitmen orangtua yang tinggi terhadap pendidikan. Ini menunjukkan bahwa bila masalah biaya dapat diatasi, partisipasi pendidikan akan meningkat. Dari hasil survei tersebut bisa dilihat bahwa biaya sekolah yang semakin mahal menjadi kendala utama meningkatnya jumlah anak-anak yang tidak sekolah atau putus sekolah. Namun terlihat pula semangat yang menggembirakan bahwa terdapat komitmen yang tinggi dari para orangtua terhadap pendidikan. Partisipasi masyarakat akan masalah-masalah yang berkenaan dengan pendidikan, utamanya pada masalah biaya, sekiranya dapat mengatasi masalah pendidikan di negeri ini.
Indonesia Sekolah; Sebuah Ajakan untuk Negeri Sebuah gambaran yang cukup mengiris hati, tentu masih ingat kasus Haryanto (12 tahun) di Garut, Jawa Barat, yang melakukan upaya bunuh diri lantaran malu orangtuanya tidak mampu membayar uang SPP. Sementara di berbagai kota lainnya, para orangtua berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke sekolah-sekolah mahal dengan biaya mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah.
ACT - Aksi Cepat Tanggap, sebagai lembaga kemanusiaan yang menaruh concern pada persoalan kemanusiaan secara umum –tak hanya bencana- melaunch program INDONESIA SEKOLAH sebagai bentuk kepedulian bersama akan masa depan bangsa. Program ini diharapkan mampu menggugah nurani masyarakat Indonesia untuk bersama-sama memajukan pendidikan sekaligus menjadi program berkelanjutan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Program INDONESIA SEKOLAH merupakan sebuah visi program strategis ACT, bahwa “tidak ada anak Indonesia yang tidak sekolah” di masa yang akan datang. Sebuah visi yang hanya bisa dicapai dengan keterlibatan semua pihak tanpa kecuali. Sebuah ajakan yang tak kalah pentingnya, mari kita teriakkan bersama, “INDONESIA SEKOLAH”.
***
Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari Soft Launching Program "INDONESIA SEKOLAH". Salurkan bantuan Anda melalui rekening;
- Bank Central Asia Acc. No. 676 030 3133 (Swift Code: Cenaidja) - Bank Syariah Mandiri Acc. No. 004 011 9999 - Bank Mandiri Acc. No. 128 000 4555 808 - Bank Muamalat Indonesia Acc. No. 304 0022 915 - Bank Negara Indonesia Syariah Acc. No. 009 611 0239
Low budget flight? Anda tentu tahu apa yang dimaksud. Artinya, anda memang terbang menggunakan pesawat, namun karena memang beranggaran murah maka pelayanan merupakan komponen yang dipangkas habis.
Di tanah air, penerbangan murah merupakan solusi yang luar biasa untuk perjalanan jarak jauh. Penerbangan murah kita betul-betul murah, karena harga tiket dapat ditekan sampai hanya beberapa ratus ribu rupiah. Maskapai penerbangan tetap untung dan tetap beroperasi, meskipun pesawat-pesawat itu berusia tua. Apakah rendahnya margin impas itu menyebabkan terpotongnya anggaran untuk biaya pemeliharaan yang semestinya, sehingga sering terjadi kecelakaan?
Dibanding dengan ongkos penerbangan di berbagai negara maju, harga tiket kita jauh lebih rendah. Untuk jarak tempuh 1,5 jam penerbangan, dapat dibayar dengan hanya sekitar US$30-40. Di Amerika, harga itu setidaknya di atas $100. Itu pun kalau tiket dipesan sekurang-kurangnya dua minggu lebih awal. Pemesanan dengan cara on-line, misalnya lewat www.expedia.com, juga akan dapat memberikan diskon, walaupun sedikit.
Tetapi, jangan coba-coba membeli tiket secara dadakan, berubah-ubah jadwal atau sangat dekat dengan hari keberangkatan. Harganya bisa selangit. Kalau anda mengubah-ubah jadwal, dampaknya bahkan lebih serius, karena anda bisa saja dicurigai. Jangan-jangan terkait jaringan terorisme? Maklum, setelah tragedi 11 September banyak sekali yang sangat sangat ketakutan.
Yang lucu, memang, bahwa semakin banyak penerbangan yang menekan habis jenis layanan gratisnya. In-flight service yang masih ada pun kadangkala terasa ironis. Apabila anda terbang dari Los Angeles ke Washington DC, misalnya, dengan jarak tempuh sekitar 5 jam, sangat mungkin anda hanya akan diberikan sepotong roti dan tawaran minuman. Okelah, ada berbagai jenis jus, kopi, teh dan air mineral, tetapi hanya itu.
Dengan United Airline, misalnya, anda tidak akan mendapatkan layanan makan pagi atau makan siang yang wajar. Kalau mau, memang, anda dapat membelinya dengan harga $5. Memang anda pun dapat saja membawa makanan sendiri, yang penting dibeli di bandara setelah melewati gerbang check-in. Itulah sebabnya di dalam pesawat akan beredar berbagai aroma makanan dan minuman, termasuk uap kopi Starbuck yang menjadi kesukaan semua orang.
Memang masih untung kalau audio headset masih disediakan untuk mendengarkan musik atau film yang ditayangkan. Untuk beberapa maskapai, misalnya Delta, anda harus membeli headset itu seharga $2. Kalau tidak, ada terpaksa bingung-bingung sendiri, syukur kalau ingat bawa buku untuk dibaca atau memang bisa tidur. Untungnya menggunakan medium musik MP3 sendiri, menjalankan DVD player atau laptop diperbolehkan setelah lepas landas dan mencapai ketinggian stabil.
Yang juga lucu, memang, bahwa para pramugari yang bertugas pun tidak harus cantik dan muda. Mungkin kalau anda terpengaruh kesan penerbangan di Indonesia atau Asia, bayangan tentang pramugari di pesawat selalu bagaikan foto model. Bagi penerbangan Amerika atau Eropa, amat biasa menemukan pramugari yang telah berumur. Sekali waktu, dalam penerbangan sebuah maskapai di AS, pramugari yang berusia di atas 60-an pun masih bertugas. Kasihan juga melihat seorang ibu tua yang harus melayani penumpang sedemikian rupa---walau masih secekatan apa pun ia.
Pasti banyak sebab mengapa layanan dalam penerbangan semakin menurun kualitasnya di Barat. Boleh jadi mahalnya upah tenaga kerja (labor wage) mengakibatkan perlunya pemangkasan di mana-mana. Belum lagi biaya yang ditimbulkan oleh peningkatan pengamanan penerbangan dan bandara. Atau, mungkinkah itu karena semua maskapai penerbangan saling berkonspirasi untuk mendapatkan selisih margin keuntungan yang lebih besar? Atau semata-mata penerbangan pun sudah harus diperlakukan sebagai sesuatu yang sangat biasa, tak lebih dari sebuah bis udara?
Patut disangka bahwa layanan demi kenyamanan dapat saja menjadi korban pertama apabila pengetatan anggaran terpaksa dilakukan, asalkan hal-hal fundamental seperti keamanan dan kelayakan penerbangan dipertahankan. Moga-moga, penerbangan di tanah air yang masih sering kecelakaan sama sekali tidak karena keharusan menggaji pramugari yang cantik dan muda atau demi menyediakan lemper dan makan siang kepada para penumpang, sehingga mengorbankan aspek pemeliharaan dan keselamatan.
Namun, apa pun itu, penerbangan sudah pasti haruslah memberikan rasa aman. Sedangkan rasa aman yang diimbangi dengan kenyamanan pelayanan akan menyebabkan para penumpang betah dan puas. Dengan begitu, ketika mendarat di bandara tujuan dan pramugari kepala mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, kita akan membalas dengan senyuman.
Ya Allah...mohon ampun dan angkatkanlah cobaan dan siksa dari bangsaku ini, derita yang tak putus-putus. Bukakanlah setiap hati bangsaku untuk dapat membaca, belajar dari segala tanda-tanda, agar tak sia-sia.