Anwar's posts with tag: kiat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryKiat buat Guru: Student of the WeekFeb 18, '08 10:29 PM
for everyone





Salah satu tantangan terbesar bagi seorang guru, di tingkat apa pun itu, adalah bagaimana merebut atensi anak didiknya secara penuh, agar seluruh potensi mereka tergali dan terasahkan.

Di tingkat pendidikan dasar, tantangan ini dapat lebih runyam lagi. Bagaimanapun, merebut perhatian anak-anak selalu gampang-gampang susah. Anak-anak tentu memiliki rentang perhatian yang lebih pendek (short attention span) dalam berbagai hal, terutama apabila kiat-kiat untuk memperpanjang daya fokus mereka diabaikan.

Guru senantiasa dituntut untuk selalu kreatif dan dinamis dalam merebut hati dan konsentrasi anak didik, apabila ilmu yang diajarkan ingin betul-betul terserap.


Pasti ada berbagai cara. Tetapi, sebagai sebuah kiat ringan yang cukup efektif adalah penentuan "student of the week". Penentuan "murid pilhan minggu ini" dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang, tergantung bagaimana sasaran yang ingin dicapai guru sesuai dengan kebutuhan objektif kelas yang diasuh.

Memang, format ini tidak jauh beda dengan pemilihan "pegawai teladan" (employee of the week) yang banyak diterapkan jaringan restoran fastfood atau perusahaan berbasis prestasi layanan lainnya. Yang berbeda tentu detil sasarannya saja.

Putri saya Aisya yang duduk di kelas dua (second grade), minggu lalu menjadi student of the week. Ia pulang dengan gembira di hari Jumat sebelumnya, lengkap dengan surat dari Ibu guru yang menjelaskan tentang profil dan tugas murid pilihan dalam seminggu itu.

Selembar kertas seukurang poster dibawa pulang, yang harus diisi dengan hal-hal menyangkut diri Aisya, foto-foto, termasuk foto keluarga, makanan kesukaan, hobi, cita-cita dan sebagainya. Poster "All About Aisya" ini dipampangkan di dinding luar kelas selama minggu pilihan. Selain itu, si murid dititipkan sebuah boneka beruang, Mr. Bear, yang harus dijaga dan dirawat sang murid. Demikian pula sebuah buku harian, "Dear Journal", yang harus diisi setiap harinya, tentang kegiatan yang dilakukan di sekolah, di rumah, atau hal-hal menarik lainnya.

Dari pengamatan saya, ini kiat yang positif. Sebab, terbukti bahwa Aisya terlihat antusias; setiap pulang sekolah ia asyik menuliskan kisah yang dialami dari sudut pandang Mr. Bear. "Dear Journal, today Aisya and I have some fun at school......."

Benar, saya melihat ada kemajuan yang penting dalam kemampuan mengarangnya. Aisya bahkan antusias untuk sharing cerita-cerita yang ditulis dalam buku harian itu di depan kelas pada Selasa, 19 Februari ini.


Intinya memang, penentuan murid pilihan minggu ini merupakan kiat yang dapat mengangkat moral sang anak. Selain itu, sekaligus melatihnya untuk bertanggung jawab (dengan merawat Mr. Bear) dan diuji kemampuan mengarang dan berfikir kreatifnya. Keseluruhan kegiatan itu bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar, sementara semangat sang anak meningkat.

Semakin saya perhatikan lebih lanjut, dalam forum maya para guru Amerika seperti di A-to-Z Teacher Stuff---Teacher Resources, Lesson Plans, Themes, Tips, Printables and more, berbagai kiat diterapkan oleh para guru yang memang penuh dedikasi itu. Salah satu yang lazim dilakukan termasuk format student of the week, yang disesuaikan dengan tingkatan dan situasi kelas masing-masing. Ada juga guru yang menggunakan metode Star of the Week, yang memberikan kesempatan untuk murid menampilkan segala kelebihan dan kemampuannya.

Dari pengalaman Aisya sebagai student of the week ini, saya [yang memang berasal dari keluarga guru] semakin mengerti perasaan seorang guru, ketika sekali waktu tahun lalu diundang sebagai hadirin dalam pertemuan guru-guru berprestasi se-AS. Terbaca ada perasaan bangga yang bermartabat di mata guru-guru pilihan itu. Betul, pertemuan itu semacam forum "teacher of the year".

LA, 18 Februari 2008

Lihat galeri foto di Student of the Week.



LinkVideojug---Life Explained. On FilmOct 18, '07 7:16 PM
for everyone
Link: http://www.videojug.com/



Saya nyangkut di videojug.com ini karena rujukan online yang saya bahkan telah lupa. Namun videojug-nya sendiri jadi tidak terlupakan. Tidak lain, sebabnya karena berbagai edisi tutorial yang ditampilkannya hampir selalu diwarnai kejenakaan. Videojug menampilkan berbagai serba-serbi kehidupan berikut berbagai trik-triknya dengan cara yang ringan dan ringkas.



VideoJug: How To Accept An Oscar

Video di atas adalah tata cara apabila anda kebetulan mendapatkan piala Oscar. Memang, agar lucu, petunjuknya justru bukan harus begitu atau begitu, tetapi agar jangan melakukan ini atau itu.

Banyak edisi how to yang ditampilkan videojug bernilai positif dan bermanfaat, bahkan dengan cara yang jenaka. Saya belajar beberapa trik sulap, belajar teknik editing dan fotografi, bahkan kiat menulis dan seterusnya. Yang lain-lain pun tersedia, terserah pilihan anda.




ReviewReviewReviewReview[Catatan] Tips Marty Nemko untuk Betah BekerjaJun 11, '07 9:27 PM
for everyone
Category:Other


Saya kira, hampir tidak ada tips yang pas dan memuaskan agar kita betah bekerja. Sebab, sebagian besar orang, kalau bukan semua, tentu lebih ingin untuk tidak bekerja namun tetap hidup enak dan nyaman. Sayangnya hanya segelintir kecil orang, entah karena warisan atau apa [Paris Hilton?], yang akan bisa seberuntung itu.

Sebagian besar dari kita terpaksa bekerja banting tulang agar dapat hidup. Sebagian bahkan lintang pukang mencari pekerjaan---dan ada yang tidak juga dapat. Tentu saja, sebagian dari yang bekerja pun cepat lupa diri, hilang rasa syukur, lantas menganggap apa yang ada sebagai suatu yang niscaya.

Bukan itu yang akan disinggung di sini. Saya kebetulan terbaca tulisan Marty Nemko, justru ketika sedang browsing berita, dan mata tertumbuk pada tulisan kolumnis career coach yang websitenya dikunjungi lebih dari 360 ribu hits tiap tahunnya itu: Seven Ways to be Happier at Work”.

Pastilah ada sebab mengapa sebagian orang betul-betul menikmati pekerjaannya. Nemko, dalam tulisan ringkasnya menyarankan langkah-langkah yang menarik.

Baiklah, pasti banyak reservasi tentang langkah-langkah yang disarankannya, karena masing-masing pasti punya kasus yang khas. Namun, untuk betul-betul memahami Nemko, mari kita daftar tujuh cara yang ia sebutkan:

· Telecommute, katanya; jadi bukan sekedar menyediakan kue ulang tahun atau memenuhi isi kulkas kantor. Dengan cara bekerja di rumah, dan itu dilakukan sambil menikmati hal-hal yang kita suka, pekerjaan tetap terpenuhi bahkan dapat dilipatduakan.

· Ajukan proyek khusus; kalau suka jalan-jalan, tawarkan kegiatan yang memungkinkan perjalanan.

· Jadilah mentor; dengan cara ini anda dapat punya rekan kerja yang dapat membahas masalah-masalah pekerjaan di kantor.

· Tweak your job description. Artinya, saling tukar dan saling silang menyangkut bidang-bidang pekerjaan yang kita unggul atau lemah dengan rekan lain justru berkemampuan sebaliknya.

· Jadikan ruang kerja senyaman rumah sendiri. Mengapa tidak memasang karpet Iran di ruangan, bila itu membuat anda nyaman? Mungkin asesoris kecil menyenangkan yang dibeli saat berkunjung ke suatu tempat di waktu lalu.

· Use at-your-desk stress busters. Dengan kata lain, ambillah satu dua menit waktu untuk bernafas pelan, dalam dan bersenam otot sambil duduk. Atau aromateraphy. Pokoknya, untuk mencas ulang energi diri.

· Carilah teman dekat.

Dari semua ini, terus terang, saya tidak terlalu terkesan dengan cara-cara yang diajukan Nemko, kecuali bahwa ia membuat daftar cara-cara yang barangkali ada manfaatnya.

Benang merah yang saya tangkap tidak lain bahwa kita cuma perlu cerdas memanfaatkan aspek sekecil apa pun untuk membuat kita merasa nyaman bekerja---di kantor atau bukan. Bagaimanapun, kita hanya manusia; bahkan ketika mengerjakan hal-hal yang disukai pun, kita bisa saja kecapaian.

Yang menarik dari tawaran Nemko justru adanya usulan cara-cara itu sendiri, bukan soal efektifitas cara yang diusulkan. Skenarionya seperti ini: ketika anda merasa capek bekerja, entah karena workload yang ada atau bahkan karena iklim kantor itu sendiri, maka membaca kolom Marty Nemko barangkali dapat menjadi pengobat juga.

Soalnya, kalau anda menjelajahi websitenya, www.martynemko.com, yang memuat sekian banyak tips free, akan ada saja yang menarik dan bisa dipetik gunanya.

LA, 11 /06/07

Blog EntryWRITER'S BLOCKJan 15, '07 9:08 PM
for everyone
At a Loss for Words






Kolom: Agusti Anwar


Hare gene macet nulis?” Itu pertanyaan gaul di lingkungan sebuah forum penulisan guna memberi semangat para peminat yang terganjal ide tak tahu mau menulis apa.

Faktanya memang, bukan saja yang pemula yang suka macet dan termenung di depan komputer, kehilangan kata-kata. Penulis profesional sekali pun, yang hidup justru dari kegiatan menulis, pasti pernah mengalami situasi seperti ini. Inilah yang disebut writer's block; situasi yang mengerangkeng sang penulis dalam status quo, macet tak ada langkah maju. Secara psikologis ia disebut terkait dengan depresi dan anxiety yang menandai adanya disorder pada frontal lobe dari otak seseorang.

Fenomenanya bisa saja separah situasi black out, betul-betul gelap tak ada cahaya, maupun seringan kehilangan pilihan kata belaka. Ada yang terpenjara sampai sangat lama, ada yang cepat saja berlalu dan maju lagi.

Coba lihat dalam film-film. Cukup sering kita saksikan adegan seorang tokoh yang mentok tak punya ide dan berulang-ulang merobek dan membuang kertas yang telah dituliskannya. Kalau dalam film kartun yang hiperbolis, tentulah kertas yang disobek dan dibuang itu akan menumpuk sampai menggunung. Macet!

Waktu mahasiswa biasanya tekanan untuk menulis itu sangat terasa. Mulai dari makalah sampai skripsi. Terutama yang terakhir ini, bagi sebagian mahasiswa bisa berbulan atau bertahun lamanya proses penulisan yang berlangsung. Betul-betul merupakan saat-saat yang menekan dan membuat frustrasi.

Penulis novel pun sering menghadapi hal ini, macet pada draft yang tak maju-maju. Sebagian bahkan bertahun-tahun. Kalau anda pernah menonton film Finding Forester yang dibintangi Sean Connery, itu adalah kisah seorang penulis novel berkepribadian tertutup (reclusive), William Forester, yang hanya menghasilkan sebuah karya besar dan itu satu-satunya karya yang dihasilkan hingga bertahun-tahun. Tentu ada banyak contoh lain, termasuk dalam dunia nyata. Penulis Amerika Henry Roth (1906-1995), misalnya, mengalami masalah ini secara kronis yang berlangsung sampai enam dekade.

Memang penghalang yang dihadapi masing-masing orang dapat saja berlainan. Ide atau inspirasi bisa saja sama sekali tidak datang. Dalam sebuah serial komedi Seinfeld (season 7), Jerry bahkan mempercandakan Elaine yang berprofesi sebagai penulis katalog produk komersil, karena macet dan bingung tidak tahu mau menuliskan apa tentang sebuah produk sepatu gunung. “Catalaog writer's block?” sindir Jerry.

Karena sudah menjadi 'penyakit umum' seperti layaknya flu atau pusing, berbagai resep telah disarankan untuk mengatasi masalah ini. Anda dapat mencari dan memilih berbagai langkah cepat yang ditawarkan. Namun, tentunya juga seperti flu dan pusing, tidak semua merek obat yang diiklankan akan mujarab bagi semua orang. Dosis masing-masing bisa berlainan.

Yang jelas, writer's block lebih sering berasal dari diagnosa psikologis diri penulis itu sendiri. Seringkali ambisi untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang luar biasa akan menjadi beban penghalang yang sangat berat. Tidak jarang bahwa target besar menjadi batu penghalang yang dipasang sendiri di depan mata, bahkan sebelum betul-betul memulai.

Memang tanpa ambisi besar pun, menulis tidak selalu mudah dilakukan. Selalu saja ada seribu satu alasan yang membuat kita gagal atau terus menunda untuk menorehkan kata pertama itu. Jika ini yang terjadi pada anda, saran terbaiknya bukanlah mencari selusin pembenaran lain, tetapi langsung tuliskan saja kata itu, apa pun ia.

Biasanya, apabila kita takut melakukan sesuatu, resep terbaik untuk mengatasinya (jika memang perlu diatasi) justru dengan spontan melakukan apa yang ditakutkan itu. Face your fear, kata orang; dan kita dapat saja akan heran sendiri ketika ternyata setelah dihadapi, masalah yang tadi terasa sangat berat ternyata hanya ringan saja.

Writer's block? Aha! Saya merasa mengalami masalah ini sejak beberapa waktu belakangan: walau pun demikian banyak yang singgah dan menggumpal di kepala, mereka tetap tidak tumpah menjadi jalinan kata-kata seperti yang diinginkan. Herannya, alasan pembenaran bagi saya untuk membiarkan pengganjal itu berkuasa adalah tuts huruf k pada laptop saya.

Mmm, beberapa waktu yang lalu, ketika membersih-bersihkan debu barisan keyboard di halaman laptop, tuts huruf k macet dan ketika saya coba perbaiki malah semakin rusak, sehingga kalau tidak ditekan keras, huruf k tidak akan tertulis di layar, padahal semua tuts yang lain tetap lembut. Begitu saja, soal huruf k telah berubah menjadi pengganjal yang membuat malas menulis.

Bayangkan betapa mudahnya tercipta alasan untuk mengganjal kreatifitas. Masing-masing kita dapat saja memiliki beragam alasan untuk tidak jadi produktif---writer's block itu.

Masih belum puas? Saya pun jadi teringat sebuah karikatur di blaug.com di atas. Adegannya, Stan mengatakan bahwa ia tidak tahu mau menulis apa di blognya hari ini, yang justru dijawab ringan oleh temannya, “That hasn't stopped you from writing about nothing before, Stan”.

Persis itu pula alasan mengapa saya menulis soal writer's block ini.


Senin, 15/01/2007 (Liburan Martin Luther King's Day)



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help